10 Juta Per Hari Gojek Tertipu Orderan Fiktif

0
195

Lintas.co.id ,Subdit IV Cyber Crime Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Metro Jaya meringkus 4 orang terkait tindak pidana penipuan bermodus membuat orderan penumpang fiktif dalam aplikasi jasa transportasi online GoJek .

Keempatnya kedapatan membuat piranti lunak alias software tambahan khusus di ponsel genggam, untuk membobol agar dapat menerima order penumpang fiktif.

Empat pelaku tersebut adalah RP, RW, CP,  dan KA. Modus operandi yang dilakukan oleh para pelaku adalah, mengoperasikan puluhan akun sopir GoJek untuk mendapatkan keuntungan bersumber dariorderan fiktif .

Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Argo Yuwono mengatakan, keempatnya memunyai  software agar tak terdeteksi sistem daring GoJek bahwa orderan yang masuk adalah fiktif.

modus  penipuan tersebut dilakukan para pelaku agar tidak terdeteksi oleh sistem Gojek. Software itu digunakan di ponsel para pelaku menunjukkan sedang menarik penumpang melalui orderan.

“Para tersangka ini melakukan order fiktif seakan-akan ada penumpangnya, padahal tidak ada,” kata Argo di Polda Metro Jaya, Rabu (13/2/2019).

Masing-masing pelaku, tambah Argo, memiliki lebih dari satu akun dalam melancarkan aksinya, yakni 15 sampai 25 akun.

Dari satu akun, masing-masing pelaku mampu merampungkan perjalanan tanpa penumpang sebanyak 24 kali.

Keuntungannya fantastis, mereka bia mendapatkan Rp 350 ribu per akun. Argo menyebut, para pelaku dapat meraup keuntungan sebanyak Rp 10 juta per hari.

“Dalam sehari, satu akun mendapat keuntungan 350 ribu. Akan tetapi, setiap orang memiliki 15 hingga 25 akun. Mereka mendapatkan keuntungan berkali-kali lipat. Kalikan saja per akun 350 ribu, ada empat orang, dan dilakukan setiap harinya,” jelasnya.

Pihak GoJek akhirnya melaporkan kejadian tersebut ke Polda Metro Jaya. Gojek mengungkap dan menemukan ada satu aplikasi yang tak dikenal masuk ke dalam sistemnya.

Akhirnya, polisi melacak keberadaan para pelaku dan meringkusnya di kompleks Ruko Duta Mas, Jelambar, Jakarta Barat, pada Jumat (1/2/2019).

Dari tangan pelaku, polisi menyita barang bukti berupa puluhan ponsel yang digunakan untuk mengorder dan bertransaksi fiktif, puluhan kartu ATM, sejumlah modem, dan kartu identitas.

Saat diinterogasi, keempat pelaku mengku telah melancarkan aksinya sejak November 2018. Namun,  penyidik akan mendalami kembali apakah benar empat pelaku itu hanya menjalankan tindak penipuannya selama tiga bulan.

“Tim penyidik masih mendalami, dan dengan kemampuan teknologi, Subdit Cybercrime akan melacaknya. Termasuk mencari jumlah total kerugian yang dialami GoJek,” ungkap Argo.

Chief Operation Officer GoJek Hans Patuwo mengatakan, pihaknya mendeteksi GPS palsu masuk ke sistemnya, sehingga kasus ini bisa terungkap.

“Kami mengapresiasi keberhasilan Polda Metro Jaya dalam mengungkap kasus ini. Laporan dan bukti-bukti yang diberikan diproses dengan cepat sehingga para pelaku bisa segera ditangkap,” jelasnya.

Atas perbuatannya para pelaku dikenakan Pasal 35 juncto Pasal 51 Ayat (1) UU Nomor 19 Tahun 2016 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik dengan ancaman hukuman pidana 12 tahun penjara atau denda paling banyak Rp 12 miliar.(agil)

LEAVE A REPLY