Alasan Pemprov DKI rombak jajaran direksi PT MRT Jakarta

0
0

Presiden Joko Widodo didampingi Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (kanan) meninjau perkembangan proyek pembangunan Mass Rapid Transit (MRT) di Stasiun Dukuh Atas, Jakarta, Jumat (30/9/2016)

Presiden Joko Widodo didampingi Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (kanan) meninjau perkembangan proyek pembangunan Mass Rapid Transit (MRT) di Stasiun Dukuh Atas, Jakarta, Jumat (30/9/2016) © Widodo S Jusuf /ANTARAFOTO

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melakukan perubahan struktur jajaran direksi PT MRT Jakarta, Senin (17/10/2016). Beberapa jabatan, dari mulai Direktur Utama hingga Komisaris bergeser posisi, digantikan oleh wajah baru.

“Sebagaimana tertuang dalam Keputusan Sirkuler Para Pemegang Saham PT MRT Jakarta tanggal 14 Oktober 2016, ditetapkan William P Sabandar sebagai Dirut menggantikan Dono Boestami,” begitu pernyataan yang ditulis dalam keterangan resmi PT MRT Jakarta di situsnya.

William sebelumnya menjabat sebagai Asisten Ahli Unit Kerja Presiden Bidang Pengawasan dan Pengendalian Pembangunan (UKP4). Dono sendiri sudah menjabat sebagai Dirut MRT Jakarta sejak tahun 2013.

Selain Dono, Mohamad Nasyir, yang sebelumnya menjabat sebagai Direktur Operasi dan Pemeliharaan digantikan posisinya oleh Agung Wicaksono. Sedangkan Direktur Konstruksi masih dijabat oleh Silvia Halim dan Direktur Keuangan dan Administrasi diberikan kepada Tuhiyat.

Jangan lewatkan:  Berita Terkin: Bertemu Dengan Jokowi, Kofi Annan Berikan Saran Untuk Kirim Logistik Kepada Rohingya !

Komisaris Utama dijabat oleh Erry Riyana Hardjapamekas. Anggotanya yaitu Kepala Dinas Bina Marga DKI Yusmada Faizal, Rukijo, dan Prasetyo Boeditjahjono.

Serah terima jabatan Direksi PT MRT Jakarta yang baru dilangsungkan pada Senin (17/10) kemarin, di Kantor PT MRT Jakarta.

Pemrov DKI merasa berhak merombak posisi direksi MRT karena memegang porsi saham terbesar dalam struktur PT MRT Jakarta. “Iya jajaran direksi kami ganti, kemarin saya sudah tanda tangan,” kata Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama, dalam beritajakarta.com, di Balaikota DKI Jakarta, Selasa (18/10/2016).

Ahok sendiri menargetkan jajaran direksi MRT Jakarta yang baru ini bisa lebih kompak lagi sehingga meningkatkan kinerja agar pembangunan angkutan massal berbasis rel bisa selesai sesuai dengan waktunya.

Jalur MRT Jakarta rencananya akan membentang sepanjang 110,8 kilometer, yang terdiri dari koridor selatan – utara (Lebak Bulus-Kampung Bandan) sepanjang 23,8 kilometer dan koridor timur-barat sepanjang 87 kilometer.

Jangan lewatkan:  Video Youtube Ritual Pecahkan Kendi jadi Simbol Buka Rute Mandao Sorong Ini Bikin Viral

Jalur Selatan-Utara merupakan jalur yang pertama dibangun. Jalur ini akan menghubungkan Lebak Bulus, Jakarta Selatan dengan Kampung Bandan, Jakarta Utara. Pengerjaan jalur ini dibagi menjadi 2 tahap pembangunan.

Tahap I yang dibangun terlebih dahulu menghubungkan Lebak Bulus sampai dengan Bundaran HI sepanjang 15.7 km dengan 13 stasiun (7 stasiun layang dan 6 stasiun bawah tanah). Proses pembangunannya sudah dimulai sejak 10 Oktober 2013 dan rencananya akan dioperasikan mulai tahun 2018.

Tahap II akan melanjutkan jalur Selatan – Utara dari Bundaran HI sampai dengan Kampung Bandan sepanjang 8.1 km. Tahap II akan mulai dibangun tahap I beroperasi dan ditargetkan beroperasi 2020. Studi kelayakan untuk tahap ini sudah selesai.

Direktur Keuangan dan Administrasi MRT Jakarta, Tuhiyat, mengaku hingga periode 30 September 2016 kemajuan pengerjaan proyek MRT fase pertama sudah mencapai lebih dari 50 persen.

“Pengerjaan proyek MRT ini terbagi dua, elevated dan underground. Kalau yang elevated itu yang kami telah selesaikan 38,49 persen dan bawah tanah 74,49 persen. Jadi keseluruhan proyek ini telah mencapai 56,41 persen,” ujar Tuhiyat dalam Okezone.com.

Jangan lewatkan:  Berita Hari Ini: Kedatangan Jokowi diantara Korban Gempa Aceh Mampu Jadi Pengobat Duka !

Untuk rute eleveted yang dikerjakan saat ini adalah mulai dari Lebak Bulus hingga Blok M. Sedangkan untuk fase bawah tanah mulai dari Bundaran Senayan hingga Bundaran HI.

Secara umum, pekerjaan konstruksi yang tengah dilakukan antara lain pekerjaan konstruksi area depo MRT di Lebah Bulus, pekerjaan pembuatan pondasi kolom jalur dan kolom untuk stasiun layang.

Selain itu pekerjaan lain yang masih dilakukan yaitu pekerjaan pembangunan struktur boks stasiun bawah tanah, pekerjaan CT/VT, serta pekerjaan pembuatan terowongan jalur bawah tanah.

Tuhiyat mengungkapkan dari konstruksi yang tengah dikerjakan dan yang akan dikerjakan sudah menandatangani kontrak pembiayaan sebesar Rp11,6 triliun dari total investasi MRT sekitar Rp12 triliun.

“Namun penyerapannya sampai akhir September baru sebesar Rp 4,5 triliun, itu yang hanya dari loan, jadi penyerapan total itu sebesar 38 persen,” tutupnya.

Bagikan dengan cinta...
Loading...

Tulis gagasan