Antonio Guterres dianggap pantas pimpin PBB

Loading...

Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa yang baru ditunjuk, Antonio Guterres.

Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa yang baru ditunjuk, Antonio Guterres. © Steven Governo /AP Photo

Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB) pada Kamis (6/10) secara resmi mencalonkan mantan Perdana Menteri Portugal, Antonio Guterres, sebagai pengganti Ban Ki-moon di pos Sekretaris Jenderal.

Nama terakhir disebut bakal mengakhiri masa jabatannya pada 31 Desember.

Menurut kanal informasi daring resmi PBB, rekomendasi DK diajukan dalam sebuah pertemuan tertutup, dan akan menuju ruang Sidang Umum PBB untuk mendapatkan kesepakatan resmi dari 193 anggota organisasi tersebut.

“Guterres adalah pilihan sempurna,” ujar Ban seraya mengatakan bahwa sosok itu “punya rasa welas asih mendalam terhadap jutaan orang yang terpaksa hengkang dari kampung halamannya”.

Dalam hemat Ban, segala kualitas yang ada pada diri Guterres akan menjadi penopang baginya “untuk memimpin PBB pada masa-masa sulit”.

Guterres, 67 tahun, niscaya mulai berkantor di lantai 38 gedung PBB, New York, Amerika Serikat, pada 1 Januari 2017.

Pencalonannya berjalan seiring dengan kampanye sejumlah politikus agar kursi Sekretaris Jenderal PBB beralih ke perempuan.

Alumnus Instituto Superior Tecnico jurusan teknik dan fisika itu bergabung dengan partai Sosialis pada 1974. Dari situ, ia lantas memutuskan untuk terjun total ke jagat politik.

Kariernya di dunia tersebut tidak kunjung surut. Pada 1995, tiga tahun setelah terpilih sebagai sekretaris jenderal partai Sosialis, ia terpilih sebagai perdana menteri hingga 2002.

Ranah PBB ia jajaki ketika pada 2005 menjadi komisaris tinggi untuk urusan pengungsi.

Upayanya mendesak negara-negara kaya untuk berbuat lebih bagi para pengungsi akibat konflik dan bencana menjadi salah satu sumbangan terbesarnya.

Salah satu pesaingnya di lingkar pencalonan, Christiana Figueres, menyebut hasil rekomendasi DK sebagai campuran rasa pahit dan manis. Komentar itu ia bagikan lewat akun pribadinya di Twitter.

“Hasil (pencalonan) yang pahit sekaligus manis. Pahit: bukan perempuan. Manis: sejauh ini, (Guterres calon) pria terbaik dalam pencalonan. Selamat, Antonio Guterres! Kami bersamamu”.

Wajar jika Figueres mengaku ada kepahitan dalam pencalonan Sekretaris Jenderal PBB. Pasalnya, banyak pihak berharap pengampu badan dunia itu untuk lima tahun mendatang datang dari kalangan perempuan.

Bagaimana tidak muncul harapan seperti itu. Dari 13 calon, tujuh adalah perempuan, yang beberapa di antaranya, lansir BBC, lebih berpengalaman dari Guterres.

Bahkan, Ban Ki-moon sempat mengetengahkan preferensinya akan kaum perempuan.

“Banyak perempuan terkemuka yang menjadi pemimpin negara, organisasi bahkan lingkaran pengusaha, politik, kebudayaan, atau bidang kehidupan lain,” ujarnya dilansirThe Guardian. “Tidak ada salahnya PBB juga (memberi tempat).”

Dan sejumlah calon memang mengatakan bahwa urusan gender jadi masalah.

Susana Malcorra, Menteri Luar Negeri Argentina, dikutip BBC, mengatakan pada bulan lalu bahwa perempuan takkan sanggup menembus wilayah Dewan Keamanan.

“Masalahnya bukan lagi atap kaca, tapi baja,” ujarnya.

Metafora yang diangkut Malcorra itu merujuk kepada ungkapan Hillary Clinton, calon Presiden Amerika Serikat dari Partai Demokrat, mengenai peluang perempuan untuk menempati posisi puncak dalam politik.

Namun, jika menengok rekam jejak Guterres–yang fasih berbahasa Inggris, Prancis, Spanyol, dan Portugal–agaknya prasangka gender dapat sedikit digeser.

Ditulis The Washington Post, Guterres ketika di UNHCR dipandang jago memangkas pengeluaran kantor dan pegawai hingga setengahnya tanpa harus mengorbankan kinerja lembaga.

Selain itu, Guterres adalah figur yang disuka di lingkungan negeri asalnya dan PBB. Ia pun dianggap tidak berpihak kepada salah satu negara anggota berhak veto di DK PBB seperti Amerika Serikat, Inggris, Prancis, Rusia, dan Tiongkok.

Rusia, yang keukeuh menginginkan Sekretaris Jenderal dari Eropa Timur, bahkan sanggup menenggang Guterres karena dirasa tidak hanya mengamini segala perkataan Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, John Kerry.

Bagikan dengan cinta...
Loading...

Related posts