Aroma politik meliputi pesta gol Kroasia

Loading...

Para pemain Kroasia merayakan gol ke gawang Kosovo dalam pertandingan Grup I kualifikasi Piala Dunia 2018 di Stadion Loro Boric, Shkoder, Albania, Jumat dini hari WIB (7/10/2016).

Para pemain Kroasia merayakan gol ke gawang Kosovo dalam pertandingan Grup I kualifikasi Piala Dunia 2018 di Stadion Loro Boric, Shkoder, Albania, Jumat dini hari WIB (7/10/2016). © Visar Kryeziu /AP Photo

Kroasia mencatat kemenangan terbesarnya selama mengikuti kualifikasi Piala Dunia. Jumat dini hari WIB (7/10/2016), kesebelasan asuhan Ante Cacic itu mencukur “tuan rumah” Kosovo 6-0.

Kemenangan besar itu diwarnai keberhasilan penyerang Mario Mandzukic menghentikan paceklik gol selama 11 pertandingan pada seluruh pertandingan (722 menit).

Tidak tanggung-tanggung, penyerang Juventus itu mencetak tri gol dalam 35 menit pertama. Artinya, Mandzukic (30 tahun) menjadi pemain pertama Kroasia yang mencetak tri gol sejak Bosko Balaban melakukannya dalam kemenangan 4-1 atas Latvia pada 2001.

Tiga gol susulan Kroasia lahir pada babak kedua. Seluruhnya dicetak Matej Mitrovic pada menit 68, Ivan Perisic pada menit 83, dan Nikola Kalinic pada masa injury time 92.

Alhasil Kroasia berhak memimpin klasemen sementara Grup I setelah dua pertandingan. Mereka unggul selisih gol dari Islandia yang pada saat bersamaan mengalahkan Finlandia 3-2.

Sementara Kosovo, kesebelasan negara yang baru merdeka pada 2008, belum beranjak dari dasar klasemen dengan nilai satu dari hasil bermain 1-1 dengan Finlandia pada September lalu.

Pertemuan Kosovo dan Kroasia seolah menjadikan Serbia sebagai “musuh bersama”. Padahal pertandingan ini tak berhubungan dengan Serbia.

Pertama; Serbia tak bergabung di Grup I, melainkan Grup D bersama Wales.

Kebetulan pada Jumat WIB pula, Serbia mengalahkan tuan rumah Moldova 3-0 sehingga menempel Wales yang bermain 2-2 dengan Austria di puncak klasemen.

Kedua, pertandingan digelar di Stadion Loro Borici di kota Shkoder (Albania). Tapi latar belakang nan panas antara Kroasia dan Kosovo dengan Serbia membuat aroma kebencian sulit dihindari.

Meski dibayangi hukuman denda dari FIFA–bahkan bisa jadi lebih keras–karena ujaran kebencian itu, suporter tetap tak peduli. Suporter Kroasia menyanyikan teks lagu yang menyiratkan pembantaian pada Serbia.

Bahkan suporter Kosovo memberi sambutan meriah sekaligus ikut menyanyi. Kebetulan, tak ada gesekan apapun antara kedua suporter ini.

Sebelum pertandingan pun mereka berpesta dan bernyanyi bersama di jalanan kota Shkoder ketika menuju stadion. Dalam aksi di jalanan itu, suporter juga menyalakan suar (flare) dan kembang api.

Suporter Kosovo menyalakan suar dalam perjalanan menuju Stadion Loro Borici di kota Shkoder, Albania, pada Jumat dini hari WIB (7/10/2016) Suporter Kosovo menyalakan suar dalam perjalanan menuju Stadion Loro Borici di kota Shkoder, Albania, pada Jumat dini hari WIB (7/10/2016) © Visar Kryeziu /AP Photo

Bagi Kroasia dan Kosovo, Serbia memang “musuh lama”. Kroasia memisahkan diri dari Yugoslavia 20 tahun lalu dan memerdekakan diri dengan proses peperangan melawan etnis Serbia.

Kosovo pun demikian. Mereka baru merdeka sebagai negara berdaulat pada 2008. Persoalannya, Kosovo yang sedang membangun kini diliputi pencitraan politik.

Euforia sebagai negara merdeka juga berarti memiliki kesebelasan nasional. Kosovo yang ditangani pelatih berdarah Swedia-Albania Albert Bunjaki menjalani pertandingan perdananya di kancah internasional di Finlandia pada September lalu.

Kemudian laga kandang pertamanya kali ini juga disambut euforia. Padahal mereka memainkan partai kandang di Albania karena infrastruktur di negeri sendiri belum memenuhi standar FIFA.

Balkang Insight mengabarkan, Kosovo masih membenahi Stadion Trepca di kota Mitrovica dan satu stadion di ibukota Pristina.

Meski demikian, antusias publik Kosovo terlihat pada penjualan tiket untuk pertandingan di Shkoder. 16 ribu lembar tiket yang disediakan Federasi Sepak Bola Kosovo (KFF) habis dalam durasi tiga jam.

“Saya senang sekali. Betapa antusiasnya masyarakat Kosovo pada laga kandang ini,” ujar Sekretaris Jenderal KFF Errol Salihu dikutip BBC.

Padahal KFF menetapkan harga tiket bervariasi dari 55 euro hingga 130 euro untuk VIP (hampir Rp800 ribu hingga Rp1,8 juta). Tapi tiket ternyata banyak muncul di pasar gelap dengan harga jual dua-tiga kali lipat.

Antusias terlihat sejak kesebelasan Kosovo melakukan latihan di kota Drenas, Kosovo. Meski Stadion Feronikeli masih sederhana dan belum menunjukkan bentuk sebagai stadion, ratusan suporter dan sejumlah kamera televisi setia menyaksikan.

Kamera televisi, jurnalis, serta ratusan suporter menyaksikan latihan kesebelasan nasional Kosovo di kota Drenas, Senin (3/10/2016) Kamera televisi, jurnalis, serta ratusan suporter menyaksikan latihan kesebelasan nasional Kosovo di kota Drenas, Senin (3/10/2016) © Visar Kryeziu /AP Photo

Cukup memilukan melihat antusias itu kemudian dibuyarkan Kroasia dengan enam gol tanpa balas. Apa boleh bikin karena Kosovo memang “baru mulai” dan ironisnya Kroasia dijadikan panutan mereka dalam sepak bola.

KFF bahkan pontang panting mengumpulkan para pemain dari kelompok diaspora Kosovo yang tersebar di Albania dan sejumlah negara Eropa. Itu sebabnya para pemain mereka baru disahkan FIFA beberapa jam sebelum pertandingan perdana lalu.

Bahkan pencetak gol pertama kesebelasan Kosovo, Valon Berisha (23 tahun), baru disahkan FIFA dua jam sebelum kick-off. Berisha adalah pemain klub Red Bull Salzburg (Austria) berdarah Kosovo kelahiran Swedia.

Kosovo pun baru diakui sebagai anggota FIFA dan UEFA pada Mei lalu. Padahal FIFA telah mengakui kemerdekaan Kosovo pada 2012.

Dengan segala latar itu, tidak heran sejumlah politisi lokal menggunakan kesebelasan Kosovo sebagai kendaraan pencitraan. Perdana Menteri Isa Mustafa, terlepas dari tugasnya untuk memberi semangat tim, hadir dalam latihan di Drenas.

Mustafa merupakan tokoh penting partai Liga Demokratik Kosovo (LDK). Dan rivalnya dari Partai Demokratik Kosovo (PDK), Kadri Veseli, tak mau kalah.

Veseli yang kebetulan ketua parlemen menjanjikan bonus sebesar EUR100 ribu per pemain apabila Kosovo berhasil lolos ke Piala Dunia 2018 di Rusia.

Sebagai kesebelasan baru, misi itu bakal sulit dicapai. Tapi siapa tahu nasib berkata lain.

Bagikan dengan cinta...
Loading...

Related posts