Bhumibol Adulyadej, raja terlama berkuasa di dunia, mangkat

Loading...

Raja Thailand, Bhumibol Adulyadej, ketika merayakan ulang tahun ke-79 di Bangkok, 2 Desember 2006.

Raja Thailand, Bhumibol Adulyadej, ketika merayakan ulang tahun ke-79 di Bangkok, 2 Desember 2006. © Sakchai Lalit /AP Photo

Senin, 5 Desember 1927, pukul 08.45 pagi, Pangeran Mahidol Adulyadej dan Putri Srinagarindra mungkin tak menyangka bayi laki-lakinya yang lahir di Rumah Sakit Mount Auburn, Cambridge, Massachusetts, Amerika Serikat (AS), bakal menjadi raja terlama yang berkuasa di bumi.


Tidak hanya itu, sang orok, Bhumibol Adulyadej, di kemudian hari dikenal sebagai Raja Bhumigol yang Agung, menjadi “satu-satunya raja dalam sejarah yang terlahir” di AS, demi meminjam kata-kata Menteri Luar Negeri John Kerry. Kelahiran di negeri asing itu jadi mungkin hanya karena ayahandanya tengah bersekolah di Fakultas Kedokteran Harvard pada 1926.


Dan Harvard sendiri bukan hal baru bagi Mahidol. Pasalnya, ia pernah belajar urusan kesehatan masyarakat di sana pada 1916. Di tempat itu pula ia bertemu dengan calon istrinya, seorang perempuan Thailand yang belajar menjadi perawat di Simmons College.


“Jika (Pangeran Mahidol) tidak ke Massachusetts, ia mungkin takkan pernah bersua dengan (calon) istrinya, dan raja yang terlahir kemungkinan bukan (Bhumibol),” ujar Choltanee Koerojna, ketua Yayasan Tempat Lahir Raja Thailand, dikutip BostonGlobe.com.


Kamis, 13 Oktober 2016, lebih dari 88 tahun setelah peristiwa langka di Massachusetts itu, Bhumibol mangkat.


Seperti sang kakek, Raja Rama V, Bhumibol telah banyak memberikan sumbangan bagi negerinya. Koran The Nation, melukiskannya sebagai sosok yang penuh cinta dan bakti mendalam terhadap rakyat Thailand. Ia juru penerang yang berulang kali memandu kerajaannya keluar dari pekatnya krisis.

Baca juga:  Anies Baswedan Sindir Jokowi, SBY Sampai Alexis dalam Debat Cagub DKI

Padahal, Bhumibol tak pernah terpikir untuk menguasai singgasana. Peluang duduk di kursi raja muncul setelah abangnya, Ananda Mahidol, tewas pada 9 Juni 1946 karena luka tembak di kepala.


“Tak pernah terlintas keinginan pada diri saya untuk menjadi seorang raja. Saya hanya ingin menjadi adik saja,” ujarnya pascakematian Ananda.


Kabar kematian Ananda sampai ke telinga Bhumibol saat ia masih di Lausanne, sebuah kota di Swiss yang menjadi tempat tinggalnya sejak 1933 menyusul kudeta militer di tanah air.


Kondisi demikian kemudian merontokkan hasratnya untuk menjadi arsitek. Demi bisa fasih dalam urusan kenegaraan, ia pun banting arah ke jurusan Ilmu Politik dan Hukum.


Janji setia kepada rakyat dan negara terlontar ketika penobatannya berlangsung pada 1950. Usianya saat itu, 22 tahun.


Bhumibol naik takhta saat masa emas monarki di Thailand meredup. Revolusi pecah ketika ia kanak, dan mempersempit ruang kuasa yang ditempa moyangnya. Pun demikian, ia dipandang sebagai model bagi raja modern: lahir di AS, besar di Swiss, dan cakap berbicara dalam bahasa Inggris dan Prancis.


Ia tak lagi lajang saat dilantik menjadi raja. Seorang sepupu jauh, Putri Sirikit, telah ia peristri.


Salah satu laku Bhumibol yang menancap di ingatan rakyatnya adalah kebiasaannya blusukan ke daerah-daerah miskin. Di tiap kunjungannya, Bhumibol telaten menyimak pelbagai problem yang mendera khalayak.


Lebih dari 3.500 proyek pembangunan tak lepas dari pengawasannya–dari pabrik hingga bendungan. Memang bukan tugasnya sebagai raja. Namun, menurutnya, aksi itu bakal berguna bagi negerinya.


Berikut wawancara dengan BBC pada 1981, yang dikutip dari TODAYonline.com, mengenai posisinya:


“Saya tidak tahu batasan ‘Raja’, itu masalahnya. Karena, dalam posisi saya, orang memanggil saya ‘Raja’. Namun, tugas saya, seperti Anda tahu, bukanlah tugas seorang raja. Itu tugas yang cukup berbeda atau sulit diuraikan. Saya melakukan banyak hal yang saya pikir akan berguna. Itu saja”.

Baca juga:  Naik Mobil Komando, Rizieq Shihab Pimpin Massa FPI Menuju Mabes Polri!

Jika menilik paten dan merek dagang yang ia hasilkan, sepertinya cara ia mengatakan ‘guna’ sungguh mengecilkan. Pasalnya, Bhumibol punya lebih dari 20 paten dan 19 merek dagang. Dua dari paten itu, metode hujan buatan dan aerasi dalam penanganan air limbah.


Untuk jasa-jasanya itu, sang Raja pun mendapatkan julukan, “Bapak Inovasi Thailand”.


Bhumibol yang modern pun seperti enteng saja menyuntuki hal-ihwal yang meningkatkan kediriannya. Menulis, bermain musik, menerjemahkan karya sastra ke dalam bahasa Thailand. Bahkan, sosok yang pernah dilabeli “Raja nan Tak Pernah Tersenyum” menggubah sejumlah lagu pop.


Saksofon menjadi favoritnya, jika menyinggung alat musik pilihan. Tiap Jumat malam, Bhumibol tampil memainkan jazz yang bisa didengarkan lewat stasiun radio kerajaan.


Di luar segala pesona itu, Thailand tetap terbelah dalam urusan politik meski Bhumibol telah berjanji takkan berpihak pada salah satu kubu. Namun, seperti ditulis The Economist, pangeran-pangeran Thailand yang ambisius menyuapinya terus dengan hal yang membuatnya jadi salah satu sosok terkaya dunia.


Citranya terus dipoles. Ia menjelma sebagai setengah-dewa.


Sejumlah kudeta militer mendapat dukungannya. Bagi para pencari topangan, restu sang raja penting dalam politik domestik. Dukungan kepada militer meruap karena baginya tentara menegaskan ihwal persatuan dan kesatuan. Ini kontras dengan para politisi, yang menurutnya terlalu banyak menanam kepentingan.

Bagikan dengan cinta...
Loading...

Tulis komentar