Cukai rokok naik, berikut Ini detailnya

Loading...

Petugas Bea Cukai Sulsel memperlihatkan sejumlah bungkus rokok ilegal saat gelar kasus di kantor Bea Cukai Sulsel, Makassar, Sulawesi Selatan, Senin (19/9/2016)

Petugas Bea Cukai Sulsel memperlihatkan sejumlah bungkus rokok ilegal saat gelar kasus di kantor Bea Cukai Sulsel, Makassar, Sulawesi Selatan, Senin (19/9/2016) © Abriawan Abhe /ANTARAFOTO

Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 147/PMK.010/2016 tentang Tarif Cukai Hasil Tembakau telah ditandatangani Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati.

Selain menaikkan tarif cukai rokok rata-rata 10,54 persen, peraturan ini juga mengatur mengenai Harga Jual Eceran (HJE) rokok yang berlaku per 1 Januari 2017. Dengan berlakunya PMK ini maka tarif cukai yang ditetapkan kembali tidak boleh lebih rendah dari tarif cukai yang berlaku.

Selain itu, harga jual eceran tidak boleh lebih rendah dari Batasan Harga Jual Eceran per batang atau gram yang berlaku.

Jika memperinci PMK tersebut, maka mulai 1 Januari 2017, HJE rokok Sigaret Kretek Mesin (SKM) paling rendah adalah Rp655, dari sebelumnya Rp590, Sigaret Putih Mesin (SPM) paling rendah Rp585 dari sebelumnya Rp505, Sigaret Kretek Tangan (SKT) atau Sigaret Putih Tangan (SPT) paling rendah Rp400 dari sebelumnya Rp370.

Sementara Sigaret Kretek Tangan Filter (SKTF) dan Sigaret Putih Tangan Filter (SPTF) paling rendah Rp655 dari sebelumnya Rp590.

Baca juga:  MUI Kota Probolinggo Beri Kecaman Untuk Akun FB Penghujat Tuhan !

Adapun harga jual eceran terendah Sigaret Kretek Mesin (SKM) hasil tembakau yang diimpor adalah Rp1.120, harga jual eceran terendah SPM Rp1.030, harga jual eceran terendah SKT atau SPT Rp1.215, harga jual eceran terendah SKTF dan SPTF adalah Rp1.120.

Adapun pertimbangan pemerintah menaikkan tarif cukai rokok dan harga jual eceran rokok hasil tembakau adalah untuk meningkatkan pengendalian konsumsi barang kena cukai berupa hasil tembakau dan memperhatikan potensi penerimaan di bidang cukai hasil tembakau yang berkesinambungan.

Di sisi lain, memasuki akhir September 2016, realisasi penerimaan bea dan cukai baru berhasil melampaui separuh target dalam anggaran pendapatan dan belanja negara perubahan (APBN-P) 2016.

Direktorat Jenderal (Ditjen) Bea Cukai Kementerian Keuangan mencatat, realisasi penerimaan bea dan cukai hingga 27 September 2016 adalah sebesar Rp100,93 triliun atau baru 54,12 persen dari target Rp186,51 triliun.

Capaian itu juga terlampau tertinggal dibanding periode yang sama di tahun lalu yang mencapai Rp114,5 triliun.

Dari jumlah tersebut, realisasi penerimaan cukai tercatat sebesar Rp76,26 triliun. Sementara itu, realisasi penerimaan bea masuk dan bea keluar masing-masing sebesar Rp22,49 triliun dan Rp2,18 triliun.

Baca juga:  SNMPTN dan SBMPTN 2017 Sudah Resmi Dibuka

Direktur Penerimaan dan Peraturan Kepabeanan dan Cukai Ditjen Bea dan Cukai, Sugeng Aprianto, dalam Kontan, menyebut lebih rendahnya cukai rokok pada tahun ini sejalan dengan tren penurunan produksi rokok.

Pihaknya mencatat, produksi rokok selama 10 tahun terakhir turun 0,28 persen. Sementara, di tiga tahun terakhir produksi rokok berdasarkan pemesanan pita cukai stagnan, dengan rata-rata pertumbuhan 0,2 persen.

Penurunan itu menurut Sugeng, terjadi karena upaya pengawasan dan penegakan hukum yang dilakukan pihaknya secara intensif. Namun, ia juga mengakui bahwa penurunan produksi rokok tersebut terjadi karena melemahnya permintaan masyarakat.

2015 tercatat sebagai tahun pertama penerimaan cukai tak mencapai target sejak 2006.

Realisasi penerimaan cukai hingga 31 Desember 2015 sebesar Rp144,6 triliun atau 99,2 persen dari target dalam APBN-P 2015. Sementara itu Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati memperkirakan penerimaan cukai tahun ini hanya mencapai Rp146,1 triliun atau 98,7 persen dari target dalam APBN-P 2016.

Bagikan dengan cinta...
Loading...

Tulis komentar