Dunia butuh lebih dari 60 juta guru baru

Loading...

Suasana kelas di Sekolah Dasar Negeri 004 Nyaribungan, Kecamatan Laham, Kabupaten Mahakam Hulu, Kalimantan Timur, Selasa (6/9).

Suasana kelas di Sekolah Dasar Negeri 004 Nyaribungan, Kecamatan Laham, Kabupaten Mahakam Hulu, Kalimantan Timur, Selasa (6/9). © Sugeng Hendratno /Antara Foto

Dunia butuh lebih banyak guru baru. Dan kata ‘banyak’ di situ merujuk ke angka puluhan juta. Tepatnya, hampir 69 juta orang, menurut badan Perserikatan Bangsa-Bangsa urusan pendidikan, sains, dan kebudayaan, Unesco.

Jumlah sedemikian dibidik guna memenuhi tenggat Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) atas pendidikan dasar dan menengah berkualitas yang ditetapkan PBB yang jatuh pada 2030.

“Sistem pendidikan yang bagus hanya dapat dicapai jika (kualitas) gurunya baik,” ujar Silvia Montoya, Direktur Institut Statistik Unesco (UIS). Menurutnya, kemajuan berskala mondial bergantung kepada rasio ideal guru dan murid. Satu kelas “tidak berisi 60, 70 siswa, atau bahkan lebih,” tambahnya.

Laporan Unesco sebelumnya menunjukkan bahwa kegagalan untuk memenuhi target pendidikan memakan korban terbesarnya pada negara-negara miskin.

Dalam laporan dimaksud, terkutip dari The Guardian, cuma 64 dari 157 negara yang sanggup mewujudkan pendidikan dasar secara penuh bagi tiap anak pada 2015.

Tak satu pun negara berpenghasilan rendah menggapai target dimaksud.

Pun begitu, tidak semua negara kaya sanggup meraihnya. Hanya 12 berjalan di lintasannya, yang dua di antarnya berada di Eropa. Amerika Serikat ditaksir baru dapat memenuhi sasaran pada 2040.

Sementara Indonesia–digolongkan sebagai negara berpendapatan menengah–diproyeksikan akan menangkap incarannya setelah 2035.

Menurut Direktur Eksekutif Unicef, Justin Forsyth, membuka ruang bagi anak-anak untuk bersekolah baru langkah awal. Hal penting lain adalah bagaimana menyediakan para pengajar terlatih untuk mewujudkan pendidikan layak bagi anak.

“Penting untuk mempersempit kesenjangan pendidikan: tanpa keberadaan guru-guru terlatih, anak-anak memang bisa duduk di bangku sekolah. Tapi, mereka takkan cakap menulis, membaca, atau berhitung,” ujarnya dinukil The Guardian.

Desakan untuk menjamin pendidikan terbuka dan setara, serta menguatkan kualitas guru, terimbuh dalam SDG 4.

Seturut data UIS, kawasan sub-Sahara Afrika memiliki kesenjangan pengajar terbesar. Pada 2030, dibutuhkan sekitar 17 juta guru pendidikan mendasar dan menengah.

Sebagai wilayah dengan populasi usia sekolah yang tumbuh paling cepat di dunia, sub-Sahara mesti bergelut untuk tetap bisa memenuhi permintaan akan guru.

Di bawahnya, Asia Selatan. Hanya 65 persen orang muda di sana pernah mencecap pendidikan menengah. Rasio pelajar dan pengajar pun ditaksir 29 berbanding 1 (taksiran 2014), jauh dari proyeksi global, 18:1.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa jumlah guru Sekolah Dasar di Indonesia per 2014 mencapai 1.539.819 orang, dengan 26.504.160 siswa.

Di tingkat pendidikan menengah, jumlah guru Sekolah Menengah Pertama (SMP) pada tahun yang sama, 596.089 orang. Menyertainya, 9.715.203 orang murid.

Sekolah Menengah Atas memiliki 278.711 guru berbanding dengan 4.292.288 siswa. Pada level Sekolah Menengah Kejuruan, jumlah pengajar 186.401 orang. Sementara, siswa yang mesti ditangani mencapai 4.199.657 orang.

Semua sekolah terdata berada di bawah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Bagikan dengan cinta...
Loading...

Tulis komentar