Fatwa sesat MUI untuk ajaran Dimas Kanjeng

Loading...

Tersangka Dimas Kanjeng Taat Pribadi digiring petugas usai melakukan rekontruksi di padepokannya Desa Wangkal, Gading, Probolinggo, Jawa Timur, Senin (3/10). Rekonstruksi yang menghadirkan Kanjeng Dimas dan sejumlah tersangka lain tersebut dilakukan untuk pengembangan pengusutan kasus pembunuhan Abdul Gani.

Tersangka Dimas Kanjeng Taat Pribadi digiring petugas usai melakukan rekontruksi di padepokannya Desa Wangkal, Gading, Probolinggo, Jawa Timur, Senin (3/10). Rekonstruksi yang menghadirkan Kanjeng Dimas dan sejumlah tersangka lain tersebut dilakukan untuk pengembangan pengusutan kasus pembunuhan Abdul Gani. © Umarul Faruq /ANTARA FOTO

Hasil investigasi Majelis Ulama Indonesia Jawa Timur menemukan, ajaran Dimas Kanjeng Taat Pribadi menyimpang, melecehkan, dan menodai agama. Karena itu, lembaga ini mengeluarkan fatwa yang isinya mengatakan ajaran Dimas Kanjeng sesat dan menyesatkan.


Indikasi sesat itu, menurut Ketua MUI Jatim, KH Abdussomad Bukhori, di antaranya dalam mengajarkan wirid-wirid yang menyimpang. Wirid itu berbunyi ‘ya ingsun sejatine Alloh wujud ingsun dzat Alloh’.


“Kalimat ini ditemukan dalam bacaan-bacaan yang dijadikan amalan pengikut. Kalimat ini sesat dan bertentangan dengan aqidah Islam,” katanya seperti dikutip dari Okezone.com.


Selain itu, MUI juga menganggap, padepokan sudah memberikan doktrin keyakinan khufarat kepada pengikutnya tentang adanya ‘bank gaib’. Dimana seolah-olah Dimas punya karomah atau keistimewaan menggandakan uang.


Karomah, kata Abdussomad, bukanlah untuk dipertontonkan seperti yang dilakukan Dimas.


Temuan ketiga, menurut Somad, di padepokannya itu, Dimas juga mengajarkan salat yang tidak ada tuntunannya, yakni salat shikat radhiyatul qubri. Salat ini terdiri dari dua rakaat dengan masing-masing rakaat membaca Al-fatihah dan mengucapkan ‘hu‘ sebanyak 41 kali.


Kesesatan keempat, Dimas menyampaikan ajaran bahwa dirinya menampilkan diri sebagai tokoh yang ‘Kun fa Yakun‘. “Artinya lambang sebagai yang bersifat Tuhan,” ujar Ketua umum MUI Pusat, KH. Ma’ruf Amin menambahkan.


Selain ajarannya, MUI Jawa Timur, merasa keberatan jika pengikut Dimas disebut santri. Karena sebutan santri hanya untuk pelajar di pondok pesantren.


Santri, kata Abdusshomad, adalah orang yang belajar agama di pesantren kepada seorang guru agama atau yang disebut “kiai”.


Sementara Padepokan Dimas Kanjeng bukanlah pesantren. Di sana, kata Abdusshomad, tidak ada kegiatan belajar agama, dan Dimas Kanjeng bukanlah seorang kiai.


“Sebutan santri adalah pelecehan terhadap santri pondok pesantren,” katanya.


Menurut Sekretaris MUI Jawa Timur, Muhammad Yunus semua aktivitas Dimas di padepokannya itu tak lain hanya sebagai kedok penipuan dibanding ajaran keagamaan. “Aktivitas di Padepokan Dimas Kanjeng lebih pada aksi kejahatan penipuan yang berkedok agama,” katanya.


Karena ajaran-ajarannya menyesatkan, MUI Jawa Timur mendesak pemerintah agar segera menutup Padepokan Dimas Kanjeng ini.


Tidak hanya menutup, pemerintah juga diminta meninjau kembali legalitas yayasan padepokan tersebut demi menajaga suasana kehidupan beragama di Jawa Timur. “Setelah ditinjau ulang harap dibubarkan,” kata Yunus seperti dinukil Kompas.com.


Berdasarkan informasi yang dihimpun MUI Jawa Timur, ada dua yayasan yang menaungi padepokan Dimas Kanjeng di Desa Wangkal, Kecamatan Gading, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur itu.


Karena diduga menistakan agama, Gabungan Umat Islam Bersatu (GUIB) Jawa Timur ke Polda Jatim, Rabu lalu melaporkan Dimas atas dugaan aktivitas penodaan agama. Sekjen GUIB Jatim, M. Yunus mengatakan, Dimas dan para pengikutnya di padepokan itu melaksanakan ritual agama Islam yang dianggap keluar jalur.


Dia mencontohkan, di padepokan tersebut, mereka diajarkan wirid atau bacaan yang dianggap sesat dan menyesatkan dan bertentangan dengan akidah Islam.


“Selain itu juga mengajarkan salat yang tidak ada tuntutannya dalam Islam, seperti salat radhiyatul qubri dan salat Syekh Abdul Qodir Jailani,” ujarnya usai melapor ke SPKT Polda Jatim.


Dimas sendiri sejak 22 September lalu ditahan dan diperiksa intensif di Mapolda Jatim terkait dua kasus yang menimpanya, yakni pembunuhan terhadap anak buahnya dan penipuan.

Bagikan dengan cinta...
Loading...

Related posts