Honda dan Yamaha kerja sama di Jepang, diduga kartel di Indonesia

0
0

Shinji Aoyama (kiri), Operating Officer and Director Honda Motor Co., bersalaman dengan Katsuaki Watanabe, Managing Executive Officer and Director, Yamaha Motor Co. Ltd., usai pengumuman kerja sama kedua perusahaan untuk membangun skuter matik 50cc di Jepang.

Shinji Aoyama (kiri), Operating Officer and Director Honda Motor Co., bersalaman dengan Katsuaki Watanabe, Managing Executive Officer and Director, Yamaha Motor Co. Ltd., usai pengumuman kerja sama kedua perusahaan untuk membangun skuter matik 50cc di Jepang. © Yamaha

Dua raksasa otomotif Jepang bersepakat untuk melupakan persaingan mereka sejenak dan memulai negosiasi untuk bekerja sama dalam mengembangkan sebuah sepeda motor. Tetapi kerja sama tersebut hanya bakal berlangsung di Negara Matahari Terbit saja, tidak di kawasan lain.

Sepeda motor yang akan mereka bangun bersama adalah jenis skuter yang berkapasitas mesin 50cc atau bertenaga listrik yang masuk dalam kendaraan kategori Class-1 di Jepang. Demikian dipaparkan dalam siaran pers pada laman resmi Yamaha.

Kendaraan kategori Class-1, menurut Akta Kendaraan Jalanan Jepang, adalah “kendaraan yang dilengkapi dua atau lebih roda dan sebuah mesin dengan kapasitas total 50cc atau kurang, atau sebuah mesin listrik dengan keluaran 0,60 kW atau kurang”.

Kerja sama itu dilakukan karena semakin mengecilnya pasar skuter di Jepang.

“Melambatnya pasar skuter seperti kita lihat beberapa tahun terakhir telah membuat bisnis di sektor ini semakin berat bagi kedua perusahaan. Jadi, bekerja sama akan menguntungkan,” kata Honda operating officer Shinji Aoyama dikutip Reuters (5/10/2016).

Honda menyatakan akan mulai memproduksi mesin skuter 50cc rancangan Yamaha untuk pasar domestik di pabrik mereka mulai akhir 2018. Produksi motor itu sendiri akan menggunakan platform model skuter kecil milik Honda.

Namun sekali lagi mereka menegaskan bahwa kerja sama tersebut hanya berlaku di Jepang dan pemasaran produk itu nantinya akan dilakukan masing-masing perusahaan.

Managing executive officer Yamaha, Katsuaki Watanabe, menyatakan manufaktur model Yamaha oleh Honda tampaknya akan lebih efisien dari segi biaya daripada yang dilakukan Yamaha saat ini, yaitu memproduksi skuter di Taiwan untuk kemudian dikirim ke Jepang.

Kerja sama antara kedua perusahaan yang telah saling sikut sejak era 1980-an ini tentu saja cukup membuat heran. Namun menjadi masuk akal setelah melihat data penjualan sepeda motor di Jepang.

Penjualan motor di Jepang turun dari 3,28 juta unit pada 1982 menjadi 370.000 unit pada 2015

Menurut data Japan Automobile Manufacturers Association, angka penjualan kendaraan roda dua di Jepang terus turun dalam tiga dekade terakhir. Setelah mencapai puncaknya pada 1982 dengan penjualan 3,28 juta unit, grafiknya turun menjadi 1,2 juta unit pada 1995, lalu hanya 370.000 unit pada 2015.

Penurunan tersebut salah satunya disebabkan warga Jepang kini lebih memilih untuk mengendarai sepeda listrik atau mobil mini guna bepergian jarak dekat.

Menurut Japan Times, Yamaha adalah pihak yang melakukan pendekatan pertama kepada Honda untuk mengajak mereka bekerja sama.

“Kami memilih jalan untuk bekerja bersama Honda setelah berdiskusi di dalam perusahaan mengenai apa yang seharusnya kami lakukan guna mempertahankan segmen ini,” kata Watanabe.

Meski pasar terus menurun, menurut Watanabe, Yamaha berpendapat motor 50cc adalah motor kelas pemula yang perannya sangat penting sehingga perlu dipertahankan keberadaannya.

Honda dan Yamaha memang mengumumkan bahwa kerja sama produksi skuter 50cc tersebut hanya berlaku di Jepang, tetapi di Indonesia mereka diduga sudah bekerja sama jauh sebelum itu.

Pada Februari 2016, Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) menduga PT Astra Honda Motor (AHM) dan PT Yamaha Indonesia Motor Manufacturing (YIMM) –masing-masing adalah pemegang merek Honda dan Yamaha di Indonesia– melakukan praktek kartel untuk mengatur harga penjualan sepeda motor di Tanah Air.

Kedua jenama Jepang itu menguasai total 93 persen pasar sepeda motor di Indonesia.

Kecurigaan bermula saat ditemukannya data biaya produksi rata-rata sepeda motor bebek dan skuter matik –dua jenis motor paling populer di dalam negeri– hanya sekitar Rp7-8 juta per unit. Namun di pasaran, bisa dilepas rata-rata Rp14-15 juta. Hitung-hitungan KPPU, wajarnya ada di kisaran Rp12 jutaan per unit.

AHM dan YIMM, tentu saja, dengan tegas membantah dugaan pengaturan harga tersebut.

Hingga saat ini sidang di KPPU masih berlangsung. Menurut anggota tim investigator dari KPPU, Helmi Nurjamil, kepada viva.co.id (7/10), sidang pemeriksaan lanjutan dugaan kartel Honda dan Yamaha masih akan dilaksanakan sampai akhir November 2016.

Pencarian pada artikel ini:

  1. yamaha matik di jepang
Bagikan dengan cinta...
Loading...
Bagikan
Artikel sebelumnyaPerubahan yang terjadi di usia 30-an
Artikel berikutnya4 pilihan wisata olahraga di Indonesia
mm
Media elektronik bisa dijadikan jendela informasi yang membangun dan mencerdaskan bangsa. Generasi muda Indonesia mulai gemar membaca untuk memperkaya wawasan dan pengetahuan. Mari kita isi dunia baca Indonesia dengan berita positif demi masa depan bangsa. Selamat berdiskusi... [Meidiana Said - Lintas Cybermedia]

Tulis gagasan