Kajian tanggul laut raksasa Jakarta selesai akhir Oktober

Loading...

Suasana pengerjaan proyek reklamasi Teluk Jakarta, Jakarta, Rabu (14/9/2016).

Suasana pengerjaan proyek reklamasi Teluk Jakarta, Jakarta, Rabu (14/9/2016). © Zabur Karuru /Antara Foto

Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas memastikan kajian National Capital Integrated Coastal Development (NCICD), yang di dalamnya termasuk pembangunan tanggul laut raksasa di pesisir utara Jakarta akan selesai akhir Oktober ini. Pembangunan tanggul laut raksasa dianggap dapat melindungi Jakarta dari banjir yang berasal dari laut.


Menteri Perencanaan dan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Bappenas, Bambang Brodjonegoro mengatakan masih melakukan kajian komprehensif, misalnya kebutuhan tanggul laut tersebut dan luas tanggul. “Apakah cukup di sepanjang pantai atau di laut, itu sekarang jadi pertimbangan kita,” kata Bambang melalui Kontan.co.id.


Penurunan permukaan tanah setiap tahun di Jakarta juga menjadi instrumen penting dalam kajian proyek ini. Pemerintah ingin memastikan bahwa pembangunan tanggul raksasa ini berdampak jangka panjang untuk mencegah Jakarta tenggelam.


Permukaan tanah Jakarta mengalami penurunan antara 7,5-14 centimeter setiap tahunnya. Penurunan permukaan tanah terjadi karena ekstraksi air di bagian tanah dalam serta tekanan dari gedung-gedung pencakar langit di Jakarta.


Dalam waktu 50 tahun, tinggi permukaan laut diduga akan berada di ketinggian tiga sampai lima meter dari tinggi jalan-jalan di Jakarta. Pada 2025, volume banjir dari sungai-sungai diduga akan meningkat karena kebanyakan sungai akan berhenti mengikuti hukum gravitasi untuk mengalir turun ke laut. “Makanya diperlukan tanggul supaya Jakarta tidak makin tenggelam,” katanya.

Baca juga:  Super Chat Alternatif Kreator Video Youtube Untuk Menghasilkan Uang Tambahan !

NCICD mencakup pembangunan sebuah tanggul laut raksasa di bagian utara dari Teluk Jakarta sebagai cara untuk melindungi ibukota dari banjir yang berasal dari laut. Di dalam dinding ini akan dibuat laguna-laguna besar untuk menampung aliran dari 13 sungai di Jakarta.


Proyek NCICD dibangun dalam tiga tahapan. Tahap pertama atau tahap A berupa penguatan sistem tanggul laut dan sungai yang telah ada dan ditargetkan selesai pada 2017. Tahap B akan dimulai pada periode 2018-2025 berupa konstruksi tanggul laut lepas di pantai bagian barat Teluk Jakarta.


Adapun tahap C akan ditandai dengan pembangunan tanggul laut lepas pantai di timur Teluk Jakarta. Di dalam tahap B dan C juga akan terdapat reklamasi dan pembangunan 17 pulau. Kota terintegrasi di 17 pulau buatan ini lengkap dengan jalan tol, jalur kereta api, pelabuhan laut, dan dapat menampung sekitar dua juta orang.


Tanggul laut raksasa ini akan dibangun dengan bentuk Garuda. Dana yang dibutuhkan untuk pembangunan diperkirakan mencapai Rp120 triliun dan memakan waktu 10-15 tahun. Panjang tanggul laut raksasa ini diperkirakan mencapai 32 kilometer, dari kota Tangerang di barat Jakarta ke Pelabuhan Tanjung Priok di Jakarta.

Baca juga:  Ini Lho Yang Akan Dilakukan Oleh Donald Trump Usai Dilantik Jadi Presiden AS !

Meski diyakini dapat menjadi solusi, tanggul laut raksasa pun bisa jadi membawa masalah baru yang lebih parah. Dikutip National Geographic Indonesia, Ketua Kelompok Kelautan Teknik Pantai ITB, Muslim Muin mencontohkan proyek tanggul laut di St. Petersburg, Rusia yang kondisi geografisnya mirip dengan Teluk Jakarta.


Rusia, kata Muslim, membangun tanggul melalui proses yang benar. Sebelum membangun tanggul, mereka punya sewage dan drainage yang dipisahkan. Sewage merupakan sistem atau jaringan untuk mengelola air limbah. Sementara drainage adalah sistem yang menyerap air hujan.


Air limbah bermuara di Sewage Treatment Plant (STP) yang dibangun dalam jumlah puluhan. Pembangunan STP ini dilakukan sebelum St Petersburg ditutup dengan tanggul.


Muslim mengatakan, jika pemerintah ingin membangun tanggul laut, seharusnya dibangun drainase dan sewage terpisah. Setelah itu, baru membangun STP. Teluk Jakarta merupakan tempat 13 sungai bermuara. Jika tidak dipisahkan, maka Teluk Jakarta akan menjadi comberan dari 13 sungai tersebut.


Muslim menambahkan, pemerintah salah jika memaksakan tanggul laut dengan hanya mengacu reklamasi di Dubai, Uni Emirat Arab. Dari kondisi geografisnya, Jakarta dan Dubai sudah berbeda. Dubai pun tidak memiliki 13 sungai sehingga tidak akan banjir.

Bagikan dengan cinta...
Loading...

Tulis komentar