Kasus video ibu bekap dan injak anak terungkap

Loading...

Sejumlah murid SD Muhammadiyah 11 Surabaya membentangkan poster saat pawai suara anak Indonesia di Surabaya, Sabtu (10/9). Pawai Suara Anak Indonesia bertujuan untuk mengajak masyarakat untuk mencegah aksi kekerasan terhadap anak dan penggunaan narkoba.

Sejumlah murid SD Muhammadiyah 11 Surabaya membentangkan poster saat pawai suara anak Indonesia di Surabaya, Sabtu (10/9). Pawai Suara Anak Indonesia bertujuan untuk mengajak masyarakat untuk mencegah aksi kekerasan terhadap anak dan penggunaan narkoba. © Moch Asim /Antara Foto

Polisi menangkap Tutut Siti Aminah (26), seorang ibu yang diduga telah menganiaya anaknya–yang masih berusia 1 tahun 8 bulan.

Kasus ini terungkap setelah video penganiayaan yang dilakukan Tutut beredar luas di Facebook dan YouTube. Video berdurasi 17 detik itu mulai jadi perhatian netizen pada 26 September 2016.

Dalam video tersebut, Tutut nampak membekap anaknya dengan bantal. Bukan membekap biasa, bantal juga diinjak dengan kaki. Dari balik bantal terdengar tangis anaknya.

Bila merujuk pada posisi kamera, besar kemungkinan peristiwa itu direkam sendiri oleh pelaku.

Melihat video macam itu, sontak netizen menyebarluaskannya, beriring rasa simpati serta seruan agar pelaku penganiayaan segera tertangkap. Antara lain, video ini jadi viral melalui akun Facebook, Umi Pipik Dian Irawati, yang tercatat sudah 234 ribu kali dilihat, dan lebih dari 8 ribu kali dibagikan, Jumat (7/10).

Baca juga:  Mahaka Masih Diskusi dengan PSSI, 20 Tim Ini Siap Ramaikan Piala Presiden 2017 !

Kepolisian Daerah Metro Jaya lantas melakukan penelusuran terhadap akun Facebook, Erlangga, yang pertama kali mengunggah video tersebut. Dari penelusuran itulah diketahui bahwa pelaku adalah Tutut. Perempuan itu merupakan warga kelurahan Sukatani, Rajeg, Tangerang, Banten.

Belakangan pun diketahui, Erlangga adalah suami Tutut. Dia memang sengaja membocorkan perilaku Tutut itu, bahkan dengan menempatkan sejumlah informasi soal istrinya dalam status Facebook yang memuat video tersebut.

“Tolong laporkan sektor kepolisian Yogyakarta seorang ibu psikopat ini ingin bunuh anaknya atau KPAI. Akun Facebook-nya Claura Chute. Demi Allah video ini dia buat jam 04.13.” Demikian bunyi status Erlangga–akun tersebut tak bisa lagi diakses.

Kepala Subdirektorat Cyber Crime Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Metro Jaya, Ajun Komisaris Besar Roberto Pasaribu, mengatakan bahwa aksi kejam Tutut dilatari keinginan mencari perhatian suaminya, yang saat ini mendekam di Lembaga Pemasyarakatan Salemba, Jakarta, sebagai narapidana kasus narkoba.

“(Dia merasa) suaminya tidak memberi nafkah, dan sempat mengancam akan membunuh dirinya,” kata Roberto, dilansir CNN Indonesia. “Untung, bayi malang tersebut tidak tewas akibat perlakukan kejam ibu kandungnya sendiri.”

Kepada polisi, Tutut juga mengaku bahwa video itu direkamnya sendiri pada 26 September.

Baca juga:  Herannya Ahok Saat dengar Pertanyaan Jaksa Kepada Saksi !

Adapun Polda Metro Jaya telah melimpahkan kasus ini kepada Polres Kabupaten Tanggerang, sesuai tempat kejadian perkaranya. Sedangkan Tutut tidak ditahan karena masih menyusui anaknya (korban).

“Tidak dilakukan penahanan karena mengingat yang bersangkutan masih punya anak kecil,” ujar Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Awi Setiyono, dikutip detikcom. Menurut Awi, bagaimana pun korban masih perlu pengasuhan orang tua. Sedangkan Tutut adalah satu-satunya orang tua korban yang tersisa, setelah ayahnya dipenjara.

Namun demikian, Awi memastikan bahwa Tutut akan tetap menjalani proses hukum atas kasus penganiayaan ini.

Pelaku akan dijerat dengan Pasal 76 C Undang-Undang No. 35/2014 tentang Perlindungan Anak. “Setiap orang dilarang menempatkan, membiarkan, melakukan, menyuruh melakukan, atau turut serta melakukan Kekerasan terhadap Anak,” demikian bunyi Pasal 76 C itu.

Adapun ancaman hukuman tertera pada pasal 80 ayat 1 UU Perlindungan Anak, yakni hukuman maksimal tiga tahun enam bulan penjara atau denda maksimal Rp72 juta. Ancaman pidana itu bisa ditambah hingga sepertiga (Pasal 80 ayat 4), merujuk status pelaku sebagai orang tua korban.

Bagikan dengan cinta...
Loading...

Tulis komentar