Keputusan soal klub Israel di Tepi Barat mengambang

Loading...

Dua orang anak melintas saat klub Beitar Shabi Givat Zeev sedang berlatih di Givat Zeev, dekat Yerusalem, Tepi Barat, 22 September 2016.

Dua orang anak melintas saat klub Beitar Shabi Givat Zeev sedang berlatih di Givat Zeev, dekat Yerusalem, Tepi Barat, 22 September 2016. © Ariel Schalit /AP Photo

Nasib pengaduan Palestina soal keberadaan klub sepak bola Israel di Tepi Barat masih mengambang. FIFA yang sedianya membahas masalah itu pada pertemuan komite eksekutif pekan lalu, Kamis-Jumat (13-14/10/2016), justru menangguhkan keputusan.

Kantor berita AFP (h/t Times of Israel) mengabarkan bahwa ketiadaan keputusan FIFA lantaran komite eksekutif “tak bisa bertemu.”

Duta FIFA untuk kawasan Timur Tengah, Tokyo Sexwale, mengatakan laporan penuh soal itu bakal siap pada bulan depan (November).

Adapun media lain Israel, Haaretz (h/t Forward), mengatakan masalah ini kemungkinan akan ditangani komisi khusus. Mereka akan membawa rekomendasi beserta solusinya ke Kongres FIFA yang dijadwalkan berlangsung pada Mei 2017.

Sementara Presiden FIFA Gianni Infantino menyatakan bakal mengunjungi Tepi Barat. FIFA juga ingin menemui enam klub profesional Israel yang bermarkas di Tepi Barat pada November.

Infantino, yang mulai menduduki kursi FIFA 1 pada Februari silam, mengatakan bakal mencari solusi untuk sepak bola.

“Kami bukan lembaga politik dan kami bukan ingin memecahkan masalah politik. Situasi dengan enam klub itu tetap terbuka, biarkan komisi khusus bekerja,” kata pria asal Swiss itu.

Masalah ini mengemuka pada akhir September menyusul laporan LSM Human Right Watch (HRW). Mereka minta FIFA untuk tidak mendukung pertandingan di Tepi Barat yang diadakan Federasi Sepak Bola Israel (IFA).

HRW mengatakan Tepi Barat masih dalam pertikaian sehingga tidak selayaknya masyarakat Israel membangun permukiman di sana, termasuk klub sepak bola beserta lapangannya.

Laporan HRW pun disambar otoritas sepak bola Palestina (PFA) dengan membawa masalah ini ke FIFA. Adapun IFA menyatakan tindakan itu salah alamat karena FIFA bukan PBB.

Persoalan ini pun mengalir lumayan jauh. PBB pun mendesak FIFA agar memberi “kartu merah” kepada IFA. Penasehat khusus PBB untuk urusan olahraga dan perdamaian, Wilfried Lemke, menilai permukiman Israel di Tepi Barat adalah ilegal.

“Dewan Keamanan PBB menegaskan permukiman itu tak berdasar. Dia melanggar hukum internasional…,” kata Lemke dikutip The Jerusalem Post.

Lebih lanjut Lemke mengatakan bila sepak bola Israel dibolehkan beraktivitas di Tepi Barat, sudah sepatutnya para atlet Palestina pun demikian. Apalagi Palestina mengatakan para atlet mereka tak punya akses untuk keluar-masuk Tepi Barat.

“Saya minta para atlet, pelatih, dan ofisial olahraga dibebaskan keluar masuk Israel-Palestina. Biarkan mereka berlatih dan bertanding dengan bebas,” ujar Lemke.

Sedangkan Susan Shalabi, orang Palestina yang menjadi anggota FIFA Monitoring Committee and PFA, berharap FIFA mau menegakkan aturan.

Shalabi memberi contoh bagaimana FIFA bersikap ketika ada tim Rusia bermain di kawasan Ukraina. Kasus yang dimaksud Shalabi adalah klub dari Crimea tak boleh bermain di Liga Rusia setelah Rusia menduduki Crimea pada 2014.

Tapi Shalabi tidak mau FIFA menangguhkan keanggotaan IFA dari otoritas sepak bola dunia itu.

“Kami tak mau itu dan kami tak ingin melihat orang dilarang main sepak bola. Tapi hukum harus ditegakkan,” tegasnya.

Adapun Israel menegaskan bahwa membawa persoalan di atas ke FIFA justru mencampur politik dengan sepak bola. Padahal, menurut Efraim Barak–penasehat hukum IFA, sepak bola seharusnya mengangkat isu perdamaian dan relasi akrab antar-masyarakat dan negara.

Tapi ini bukan kasus pertama Israel-Palestina yang masuk ke FIFA. Menurut data The Christian Science Monitor, FIFA pernah mengurusnya pada Januari 2015.

Ketika itu FIFA berusaha menegur langkah Israel yang membatasi pergerakan tim-tim asal Palestina. Tapi tetap saja masalah itu tak selesai. Ketua PFA Jibril Rajoub kala itu mengatakan, “…kami tidak akan mengibarkan bendera putih.”

Bagikan dengan cinta...
Loading...

Tulis komentar