Ketegangan pada Hari Asyura

Loading...

Ilustrasi penolakan di Hari Asyura

Ilustrasi penolakan di Hari Asyura © Dewi Fajriani /Antara Foto

Asyura, hari kesepuluh bulan Muharam dalam penanggalan Hijriah, acap ditempelkan kepada kaum Islam Syiah. Pasalnya, di hari itu, Husain bin Ali, imam ketiga Syiah setelah Ali bin Abi Thalib dan Hasan bin Ali, tewas dipenggal di Padang Karbala, Irak.

Ingatan akan pembunuhan yang dilakukan tentara Yazid bin Muawiyah–seorang khalifah Bani Umayyah–masih diperingati dengan khidmat oleh para pemeluk Syiah di pelbagai negara. Namun, label sesat yang senantiasa dilekatkan pada golongan tersebut membuat perayaan Asyura rutin membuihkan ketegangan.

Kasus semacam itu bisa ditengok di Kendari, Selasa (11/10), ketika penolakan atas kegiatan peringatan Asyura di sebuah hotel digaungkan.

“Mereka ini sudah jelas sesat, tidak boleh kita biarkan. Saya menyesalkan kenapa polisi membiarkan acara ini berlangsung,” ujar Abu Dihyah, dikutip Tempo.co.

Abu Dihyah menjadi bagian dari ratusan warga dan beberapa organisasi massa Islam Kendari, Sulawesi Tenggara (Sultra), yang memprotes acara peringatan yang diikuti lebih dari 100 orang di Hotel Kubra.

Pihak yang menjadi sasaran pelabelan pun mengetengahkan pembelaan. Pemimpin Ikatan Jamaah Ahlulbait Indonesia (Ijabi) Sulawesi Tenggara, Nunung Siagi, menyatakan penganut Syiah di hotel dimaksud tidak bersifat seperti kabar yang meluas.

“Saling menghargailah kepercayaan orang lain, kami juga tidak pernah mengusik kepercayaan siapa pun. Intinya, NKRI harga mati. Selama kami tidak mengusik keutuhan NKRI, kami tidak pernah takut,” ujar Nunung seperti dikutip Kompas.com, Selasa (11/10).

Baca juga:  Penggalangan Dana Komite Sekolah Diperbolehkan, Asal Bukan Bentuk Pungutan !

Di Jawa Tengah, ritus Asyura yang dihadiri sekitar 1000 pemeluk Syiah mendapatkan pengawalan sekitar 750 polisi. Konsentrasi penjagaan adalah Masjid Nurus Tsaqalain. Jalan Boom Lama, Semarang Utara, demikian warta Liputan6.com.

“Kalau ada yang nekat berinisiatif membubarkan, maka berhadapan dengan kami,” ujar Kepala Kepolisian Resor Kota Besar Semarang, Komisaris Besar (Kombes) Abiyoso Seno Aji.

Awalnya, perayaan dijadwalkan digelar di kawasan Pusat Rekeasi dan Promosi Pembangunan (PRPP) Semarang. Tapi, karena desakan sejumlah organisasi massa (ormas) Islam, acara di tempat itu dibatalkan.

Peniadaan acara di PRPP berawal dari aksi protes ratusan orang dari organisasi Forum Umat Islam Jawa Tengah dan Yogyakarta di muka kantor Gubernur Jawa Tengah.

“Aksi ini untuk meminta kepada Gubernur agar mengeluarkan larangan kegiatan Asyura di seluruh (Jawa Tengah). Syiah di (Jawa Timur) sudah tidak boleh, Bogor juga tidak boleh,” kata Muhammad Lutfi dari FUI Semarang dilansir detikcom.

“Kami menyayangkan kenapa acara (di Masjid Nurus Tsaqalain) dibolehkan. Kalau dibolehkan berarti aparat membiarkan muncul benih konflik. Harusnya dicegah,” ujarnya, Selasa (11/10).

Sementara itu, di ibu kota Afghanistan, Kabul, perayaan Asyura diwarnai dengan serangan bersenjata oleh sejumlah pria tidak dikenal. Sekitar 14 orang meninggal dunia dan 40 lainnya mengalami luka-luka dalam peristiwa di Keramat Sarte Sakhi.

Baca juga:  Super Chat Alternatif Kreator Video Youtube Untuk Menghasilkan Uang Tambahan !

Butuh sekira tiga jam bagi pasukan khusus Afghanistan untuk memastikan bahwa semua penyerang mati.

Sebelumnya, polisi menyatakan bahwa salah satu penyerang telah menyandera beberapa pemeluk Syiah yang hadir.

Pelaku tidak terantisipasi karena melakukan penyamaran: setidaknya tiga di antaranya mengenakan seragam polisi atau tentara.

Adapun ihwal Syiah, kemunculannya diyakini bertolak pada masa setelah Nabi Muhammad meninggal pada 632 Masehi. Kepergian Sang Penyampai Pesan Ilahi itu pun memicu kericuhan menyangkut siapa yang pantas menjadi penerusnya.

Golongan Sunni–yakni ahl as-sunnah wa l-jama’ah atau pendeknya ahl as-sunnah–meyakini bahwa pewaris terlaik adalah ia yang punya kualifikasi paling baik.

Di lain pihak, golongan Syiah–yakni Syiah Ali, yang secara harfiah berarti para pengikut Ali bin Abi Thalib, sepupu sekaligus mantu Nabi Muhammad–tiada bersangsi bahwa sosok penerus mesti berasal dari keluarga Rasulullah SAW.

Pada hemat kelompok ini, orang itu adalah Ali.

Ali tewas dibunuh di belakang hari pada 661 M di tengah menghangatnya perpecahan di tubuh Islam, yang lantas memuncak di Karbala (Irak). Para penguasa Sunni membunuh cucu Muhammad, Husain, pada 680 M, di tengah Pertempuran Karbala. Tragedi 14 abad silam itu takpelak tertanam pada sanubari para pengikut Ali.

Bagikan dengan cinta...
Loading...

Tulis komentar