Masalah Inggris bukan hanya Wayne Rooney

Loading...

Kapten Inggris Wayne Rooney bersiap menendang bola saat melawan Slovenia di Stadion Stozice, Ljubljana, Slovenia, Rabu dini hari WIB (12/10/2016).

Kapten Inggris Wayne Rooney bersiap menendang bola saat melawan Slovenia di Stadion Stozice, Ljubljana, Slovenia, Rabu dini hari WIB (12/10/2016). © Darko Bandic /AP Photo

Pelatih sementara Inggris, Gareth Southgate, mengalami kemunduran. Empat hari setelah mengalahkan Malta 2-0 (8/10/2016), Inggris ditahan Slovenia tanpa gol (Rabu dini hari WIB 12/10).

Hasil 0-0 boleh jadi mengecewakan. Tapi skor itu membuat Inggris mengulangi rekor tujuh pertandingan beruntun tanpa kebobolan pada kualifikasi Piala Dunia atau Piala Eropa dalam kurun 1985-1987 dan 1988-1990.

Persoalannya, skor itu diperoleh saat Inggris punya sejumlah masalah. The Guardian menilai permainan Inggris di kandang Slovenia itu berantakan.

Di lini serang, Inggris hanya mampu melepas tiga tembakan ke gawang Slovenia. Itu adalah jumlah tembakan paling rendah Inggris dalam pertandingan resmi sejak melawan Kosta Rika pada Piala Dunia 2014.

“Inggris bisa membawa pulang satu poin berkat kepiawaian kiper Joe Hart,” tulis media berpengaruh di Inggris tersebut.

Persoalannya, ini hanya masalah lanjutan. Pasca pemecatan pelatih Sam Allardyce karena masalah kesusilaan pada 27 September, masalah lain belum muncul.

Pertama, nasib kapten Wayne Rooney. Pemimpin kesebelasan Manchester United (MU) ini baru dimainkan Southgate pada menit 73.

Southgate kelihatan bingung pada situasi Rooney. Pelatih berusia 46 itu heran mengapa Rooney diejek suporter saat mengalahkan Malta di Stadion Wembley, London.

Baca juga:  Irfan Bachdim Senang Mantan Klubnya Diakui PSSI

Ketika itu Southgate menempatkan Rooney sebagai gelandang bertahan, sebuah posisi baru bagi pemain berusia 30 itu. Namun pembelaan untuk Rooney justru dijawab Southgate dengan mencadangkannya pada laga di Slovenia meski dengan alasan taktik.

Padahal Rooney butuh waktu untuk bermain sebagai gelandang, apalagi dengan peran bertahan. Lagi pula dia tak pernah main sebagai gelandang lagi, melainkan kembali menjadi penyerang, sejak MU ditangani Jose Mourinho.

Dan tanpa Rooney, permainan Inggris justru berantakan. Southgate kemudian memainkannya mulai menit 73 dengan alasan; “…butuh pemain berpengalaman untuk menenangkan keadaan.”

Beruntung, Rooney saat ini bukan seperti Rooney muda. Pemain tertajam Inggris ini tak keberatan menjadi cadangan.

Dia boleh jadi sadar bahwa dia bukan lagi pilihan otomatis bagi MU dan Inggris. Namun inilah tantangan baginya, apakah dia bisa bangkit atau justru makin tenggelam.

Persoalan kedua adalah kekacauan. Maksud Southgate soal kekacauan adalah warisan perubahan pelatih secara cepat yang dialami Inggris.

Namun kekacauan itu sebenarnya datang dari kualitas para pemain Inggris. Kemampuan para pemain mengubah peluang jadi gol hanya 4,6 persen dari 87 tembakan dalam empat laga terakhir (hingga melawan Malta).

Baca juga:  Gian Zola Bertekad Buktikan Diri di Persib Bandung

Koversi, yang dihitung The Daily Star, itu jauh lebih buruk dibanding seluruh klub Liga Primer Inggris (EPL). Angka konversi masih di bawah Southampton (8,3 persen) dan Swansea City (8,5 persen).

Dan situasi itu dipengaruhi oleh kontribusi EPL terhadap kesebelasan Inggris. Survei CIES Football Observatory (h/t Inside World Football) menunjukkan 16 klub EPL hanya memainkan para pemain Inggris tidak lebih dari 50 persen waktu pertandingan.

Jumlah itu di bawah durasi waktu para pemain lokal di Liga Prancis, Liga Spanyol, Liga Jerman, dan Liga Italia. Bahkan dari 16 klub tadi, 14 klub di antaranya hanya memberi waktu bermain pemain Inggris kurang dari 40 persen.

Delapan klub lainnya hanya memainkan para pemain lokal kurang dari 30 persen waktu. Jadi, para pemain Inggris menjadi “terasing” di kompetisinya.

Ironisnya ini dilakukan oleh klub-klub besar seperti Chelsea (16 persen), Manchester City (17 persen) dan Arsenal (23 persen). Jadi semakin kaya klub, pemain Inggris makin terpinggirkan.

Akibatnya para pemain Inggris tidak cukup terasah dan itu mempengaruhi kesebelasan Inggris.

Bagikan dengan cinta...
Loading...

Tulis komentar