Mourinho kembali bertahan, Liverpool kehilangan kesabaran

0
0

Penyerang Manchester United Zlatan Ibrahimovic (biru) menolong gelandang Liverpool Emre Can bangkit di tengah pertandingan di Anfield, Liverpool, Selasa dini hari WIB (18/10/2016).

Penyerang Manchester United Zlatan Ibrahimovic (biru) menolong gelandang Liverpool Emre Can bangkit di tengah pertandingan di Anfield, Liverpool, Selasa dini hari WIB (18/10/2016). © Dave Thompson /AP Photo

Tidak ada gol dalam pertemuan Liverpool dan Manchester United (MU) di Stadion Anfield, Liverpool, Selasa dini hari WIB (18/10/2016). Untuk kedua kali dalam 50 pertemuan di Liga Inggris (EPL), mereka bermain 0-0.

“Pertandingan yang bagus dan sulit, baik bagi kami maupun mereka,” ujar pelatih MU Jose Mourinho saat mengawali jumpa pers.

Tapi satu poin justru merugikan Liverpool. Kegagalan memenangi pertandingan membuat kans menuju puncak klasemen tertunda.

Liverpool tertahan di posisi empat dengan nilai 17, terpaut dua angka dari pemimpin klasemen Manchester City. Sedangkan MU masih tercecer di posisi tujuh dengan nilai 14.

Mourinho mengklaim taktik kesebelasannya lebih baik dan berhasil mengendalikan permainan meski tak berhasil mencetak gol. Sebenarnya taktik Mourinho hanyalah bertahan, termasuk penguasaan bola hanya 35 persen.

Itu adalah penguasaan bola terendah MU dalam sejarah EPL sejak 2003. Dan ini mengejutkan Jamie Carragher, eks pemain Liverpool yang menjadi analis pertandingan di Sky Sports.

Jangan lewatkan:  Jadwal Liga Jerman Pekan Ini: Prediksi Koeln vs Borussia Dortmund 10 Desember 2016

“…itulah kesebelasan asuhan Jose Mourinho. Saya pikir tidak ada pelatih yang pintar melumpuhkan lawan lebih baik dari dia dalam hal melumpuhkan lawan,” ujar Carragher yang pensiun dari 17 tahun di Liverpool pada 2013.

Pria berusia 38 itu khawatir gaya permainan bertahan Mourinho akan membuat pendukung MU gerah. Tapi Ryan Giggs, eks kapten MU, tak sepakat.

Giggs mengatakan gaya permainan Mourinho memang tidak ideal. Tapi bila itu bisa mendatangkan hasil (baca: kemenangan), tidak masalah.

“Jika Anda menguasai bola 35 persen dan menang, semua orang senang. Tapi jika Anda bermain imbang terus dan gagal menang, suporter bakal tak bisa menerimanya,” tukas orang Wales ini.

MU sebenarnya tak terlampau bertahan, bila terminologinya adalah “parkis bus”. Pada babak pertama, “Setan Merah” justru beberapa kali bisa bergerak menyerang.

Tapi tiga upaya tembakan dari luar kotak penalti, salah satunya melalui Paul Pogba, jauh dari sasaran. Para pemain MU di area sayap juga masih bisa melakukan manuver.

Jangan lewatkan:  Hasil TSC Hari Ini ISC A 2016: Arema vs Sriwijaya FC Skor 3-2

Tapi hanya dua dari 13 umpan silang yang berhasil masuk, itu pun hanya berhasil diblok. Jadi serangan MU, yang untuk ketiga kali secara beruntun tidak diperkuat Wayne Rooney sejak menit awal, kehilangan taji.

MU memang fokus bermain pasif. Tapi mereka menahan Liverpool bukan hanya di belakang, melainkan di depan dan tengah.

Defensive forward beberapa kali dilakukan para penyerang. Salah satu yang hampir berhasil terjadi pada menit 49.

Tekanan tanpa bola MU di depan terhadap kiper Loris Karius membuat operan bola jatuh di kaki Pogba. Tapi Zlatan Ibrahimovic yang menerima umpan pemain Prancis itu di kotak penalti sudah terjebak offside.

Sedangkan di tengah, Ander Herrera menjadi momok bagi serangan Liverpool. Pemain Spanyol ini menguasai seluruh unsur statistik bertahan versi Stat Zone Four Four Two.

Dia memenangi seluruh duel satu lawan satu (lima kali) dan melakukan tujuh tekel sukses dalam 12 kesempatan. Lalu pemain berusia 27 ini berhasil memotong aliran bola Liverpool 11 kali (intercepts), dan 10 kali mengambil alih penguasaan bola (ball recoveries).

Jangan lewatkan:  Jadwal Liga Spanyol 2016: Prediksi Osasuna vs Barcelona, Awas Terpeleset!
Gambaran statistik Ander Herrera Gambaran statistik Ander Herrera © Stats Zone /Four Four Two

Di sisi lain, Liverpool tampil di luar kebiasaannya. Mourinho berhasil melumpuhkan permainan cepat nan mengalir yang biasa diperagakan Liverpool.

Alhasil, Liverpool hanya berhasil melepas dua tembakan menuju target (shots on target) dari 65 persen penguasaan bola. Dua peluang emas, melalui Emre Can dan Philippe Coutinho, pada babak kedua itu kemudian mentah diadang kiper David De Gea.

Mourinho menyebut Liverpool terlampau berhati-hati. Sinyal itu ada pada keputusan pelatih Juergen Klopp yang memainkan dua gelandang defensif Can dan Jordan Henderson.

Klopp mengatakan para pemainnya tidak cukup kreatif saat menguasai bola. Pelatih asal Jerman ini juga mengatakan bahwa kesebelasannya berhasil didikte MU pada babak pertama.

“Kami mudah kehilangan kesabaran dan operan kami tidak bagus. Kami memegang kendali 65 persen, tapi seharusnya kami bisa lebih baik,” kata Klopp tanpa bermaksud para pemainnya harus membuat banyak peluang.

Bagikan dengan cinta...
Loading...
Bagikan
Artikel sebelumnyaLembutnya cheesecake Jepang yang marak di Jakarta
Artikel berikutnyaU-12 Indonesia berakhir di posisi 11
mm
Media elektronik bisa dijadikan jendela informasi yang membangun dan mencerdaskan bangsa. Generasi muda Indonesia mulai gemar membaca untuk memperkaya wawasan dan pengetahuan. Mari kita isi dunia baca Indonesia dengan berita positif demi masa depan bangsa. Selamat berdiskusi... [Meidiana Said - Lintas Cybermedia]

Tulis gagasan