Ponsel pintar dapat picu gejala ADHD

Loading...

Ponsel pintar jadi simbol zaman modern. Namun benda canggih ini juga bisa mendatangkan berbagai masalah.

Ponsel pintar jadi simbol zaman modern. Namun benda canggih ini juga bisa mendatangkan berbagai masalah. © View Apart /Shutterstock

Saat berkomuter, coba tengok sekitar Anda. Di dalam bus, kereta, di mana-mana hampir semua orang menunduk, menatap layar ponsel pintar.

Kita tak dapat memungkiri adiksi terhadap ponsel pintar. Walau memberikan banyak keuntungan bagi penggunanya, tanda-tanda bahwa adiksi itu menyebabkan gangguan kesehatan dan gaya hidup semakin nyata.

Sebuah riset yang dipublikasikan dalam American Journal of Physical Medicine & Rehabilitation menyebutkan orang yang terlalu sering mengetik pesan di ponsel pintar berisiko mengalami kondisi tendinitis. Ada pula sakit leher yang diakibatkan ponsel pintar.

Ya, ponsel pintar memang merupakan simbol zaman modern. Benda canggih ini memungkinkan Anda mengatur jadwal, unjuk gigi di media sosial, berkomunikasi dan banyak hal lain. Namun sebenarnya siapa yang pegang kendali? Anda atau ponsel pintar?

Untuk menjawab pertanyaan itu, Kostadin Kushlev dari University of Virginia dan Jason Proulx serta Elizabeth Dunn dari the University of British Columbia melakukan riset.

Lewat sebuah polling, terungkap bahwa orang menghabiskan setidaknya dua jam per hari menggunakan ponsel pintar. Sekitar 70 persen, kata Kushlev, menggunakannya pada jam kerja. Malah ada 10 persen yang nekat menggunakannya saat sedang intim bersama pasangan.

Alasan-alasan itu juga menjadi dasar mengapa akhirnya mereka memutuskan untuk mengamati efek dari penggunaan ponsel pintar. Khususnya bagaimana notifikasi yang dikeluarkan benda itu dapat mengalihkan perhatian seseorang, bahkan hingga menimbulkan rasa cemas dan gejala mirip Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD).

Kushlev dan tim riset merekrut 221 milenial–mahasiswa University of British Columbia–untuk jadi partisipan penelitian selama dua pekan. Tak satupun dari mereka menderita ADHD.

Pada pekan pertama, periset meminta setengah partisipan meminimalkan interupsi dari ponsel pintar. Menjauhkan, juga mendiamkan bebunyian notifikasi. Setengah partisipan lain diminta untuk membiarkan ponsel pintar berada dalam jangkauan dan notifikasi berbunyi. Pada pekan kedua, periset menukar instruksi untuk kedua kelompok.

“Kami menemukan bukti eksperimen pertama bahwa interupsi dari ponsel pintar dapat menyebabkan kurangnya perhatian dan hiperaktivitas–gejala gangguan defisit perhatian hiperaktif–bahkan pada orang-orang dalam populasi nonklinis,” jelas Kushlev yang memimpin riset dikutip WIRED.

Kushlev dan tim riset mengukur kurangnya perhatian dan hiperaktivitas dengan meminta peserta untuk mengidentifikasi seberapa sering mereka mengalami 18 gejala ADHD dalam dua pekan.

Perbedaan pun tampak nyata. Kala ponsel pintar berada dalam jangkauan dan notifikasi berbunyi, partisipan mengaku lebih terganggu. Mereka terdistraksi, sulit fokus, lekas bosan, dan tak bisa diam.

Ini terlihat dari berbagai masalah yang timbul akibat ponsel pintar. Ada yang lupa membayar tagihan, susah fokus saat mendengar orang lain bicara, merasa cepat lelah, hingga mengganggu orang lain.

Temuan riset ini, kata Kushlev, memang tidak menunjukkan bahwa ponsel pintar menyebabkan ADHD, juga tidak membuktikan mengurangi notifikasi ponsel pintar dapat mengobat ADHD. “Temuan kami hanya menyarankan bahwa stimulasi digital secara konstan mungkin berkontribusi terhadap meningkatnya masalah defisit perhatian dalam masyarakat modern,” papar Kushlev dilansir VICE.

Pun demikian Kushlev berpendapat, temuan riset ini cukup meresahkan. Terutama karena ponsel pintar adalah gawai canggih dengan penjualan tercepat sepanjang sejarah. Apalagi para milenial masa kini tidak sekadar memiliki ponsel pintar, tapi juga menghabiskan 3,25 jam di internet setiap hari lewat gawai dalam genggaman mereka.

Kesimpulannya memberi jeda dalam penggunaan ponsel pintar adalah hal yang baik agar Anda–bukan ponsel pintar–tetap pegang kendali. Tak perlu mematikannya, cukup sesekali mendiamkan dan menjauhkannya dari jangkauan.

Bagikan dengan cinta...
Loading...

Related posts