Raisa memikat Bandung lewat konser tur Handmade

Loading...

Raisa melakukan latihan terakhir sebelum konser di Eldorado Concert Hall, Bandung, Jawa Barat, Jumat (7/10/2016)

Raisa melakukan latihan terakhir sebelum konser di Eldorado Concert Hall, Bandung, Jawa Barat, Jumat (7/10/2016) © Andi Baso Djaya/Beritagar.id

Suara ribuan penonton membahana saat Raisa Andriana memasuki panggung di Eldorado Concert Hall, Jalan Dr. Setiabudhi No.438, Bandung, Jawa Barat, Jumat (7/10/2016) malam. Lewat berbagai tembang cinta, penyanyi yang akrab dipanggil Yaya itu sukses memikat hati Your Raisa–sebutan untuk penggemarnya.

Bisa dibilang sejak lagu pertama hingga terakhir, Your Raisa seolah tiada henti ikut bernyanyi mengikuti Raisa. Pada saat jeda menuju lagu berikutnya, aneka teriakan dari mulut penonton terdengar nyaring. Mulai dari sekadar memanggil nama Yaya hingga pujian “Kak Raisa cantik banget.”

Beritagar.id kebetulan diundang meliput konser tersebut. Berangkat dari Jakarta sekitar pukul 07.45 WIB, rombongan terdiri lima orang jurnalis tiba di kompleks Eldorado tiga jam berselang.

Bandung merupakan destinasi pertama dari “OPPO Raisa Handmade Tour 2016”. Raisa menuturkan alasan pemilihan kota berjuluk “Paris van Java” sebagai pembuka tur.

“Kota ini adalah rumah kedua saya. Sambutan dan semangatnya selalu hangat. Terima kasih banyak sudah mau datang,” kata Raisa dari atas panggung.

Seperti judul turnya, hampir seluruh lagu yang terdapat dalam album Handmade dibawakan malam itu. Album yang melibatkan Marco Steffiano dan Rayendra Sunito sebagai produser merupakan fase baru dalam perjalanan karier bermusik Raisa.

Jika dalam dua album sebelumnya masih menggandeng Universal Music Indonesia sebagai distributor, album ini dirilis dan didistribusikan Raisa melalui Juni Records. Ini adalah label rekaman milik Raisa bersama manajemennya dan dikomandoi Adry Boim.

Mengatur produksi dan peredaran album sejak dari nol secara mandiri memang menuntut kerja ekstra keras. Namun pada sisi lain, saat album tersebut mengecap sukses kenikmatannya terasa berkali lipat.

Dalam acara Anugerah Musik Indonesia (28/9), Raisa memborong enam penghargaan berkat album Handmade. Saat Anugerah Planet Muzik 2016 di Singapura (30/9), solis berusia 26 itu berjaya membawa pulang trofi pada kategori Duo/Kumpulan Terbaik (bersama Afgan) dan Artis Terbaik (Wanita) untuk lagu “Kali Kedua”.

Sembilan dari 11 lagu yang termuat dalam Handmade adalah ciptaannya. Dalam album tersebut, Raisa mengaku lebih berani membuka diri untuk mengungkapkan perasaan dan pengalamannya dengan jujur.

Keputusan tersebut membuatnya rentan mendapatkan pertanyaan perihal personal. Namun ia berani mengambil risiko tersebut.

Diakuinya, memang tidak menyenangkan saat orang-orang bisa langsung tahu tentang momen spesifik bermodalkan lagu-lagu ciptaannya. Tapi perasaan tersebut ditepisnya demi sebuah karya yang ketika dibawakan mampu ia resapi dan hayati lebih dalam.

Marco yang juga bertugas sebagai penata musik dalam konser Raisa mengatakan, karakter Raisa yang paling menonjol adalah bagaimana ia sangat mendahulukan pesan sebuah lagu dibanding hal lainnya.

Kejujuran dalam setiap baris lirik tersebut membuat para penonton di Eldorado Concert Hall seolah terhanyut dan terpikat aksi Raisa.

“Konsernya dari awal hingga akhir keren banget. Lagu ‘Jatuh Hati’ itu menggambarkan hubungan kami berdua,” ujar Muki, penonton asal Bandung sembari menggandeng tangan kekasihnya yang berdiri di samping.

Suasana panggung konser Raisa saat gladi resik di Eldorado Concert Hall, Bandung (7/10/2016) Suasana panggung konser Raisa saat gladi resik di Eldorado Concert Hall, Bandung (7/10/2016) © Andi Baso Djaya/Beritagar.id

Hujan deras sempat mengguyur area gedung konser pada siang hari. Beberapa kru produksi terbirit mencari tempat berteduh.

Sementara yang lain mengambil terpal untuk menutupi beberapa barang yang masih terparkir di luar. Beruntung tumpahan air dari langit itu hanya berlangsung sekitar 30 menit.

Saat melakukan check sound, terjadi beberapa kendala teknis. Alhasil gladi resik sempat molor. Agar waktu tidak terbuang percuma, sesi wawancara round table bersama Raisa dimajukan.

Jadwal wawancara itu rencananya berlangsung setelah gladi resik. Tapi berselang 15 menit tanya jawab, kendala teknis berhasil diatasi berkat ketangkasan kru produksi.

Raisa yang mengenakan kaos hitam bertuliskan materi promosi turnya dan celana jeans warna senada naik menjajal panggung. Selain menyanyi, sesekali ia berkoordinasi dengan kru.

Beberapa materi speech mulai dari sapaan kepada penonton hingga cerita di balik terciptanya sebuah lagu juga dilatihnya pada sesi ini. Lampu-lampu dan tata visual yang terpancarkan dari lima LED screen sebagai latar panggung mulai bermain. Sebelumnya sempat diadakan doa bersama dan pemotongan tumpeng.

Kelar tiga lagu mengalun dalam sesi gladi resik, rombongan jurnalis dari Jakarta memutuskan makan siang. Saat itu jarum jam menunjukkan pukul 15.00 WIB.

Atas saran salah seorang panitia, kami meluncur ke Lembang, Kabupaten Bandung Barat. Sekitar 45 menit perjalanan dengan rute mendaki dari gedung konser. Dari daerah yang tingginya lebih dari 1000 meter di atas permukaan laut, kita bisa memandangi Kota Bandung.

Selesai makan siang dibarengi sedikit istirahat, dua jam kemudian kami kembali menuju kompleks Eldorado. Suasana sudah ramai oleh para calon penonton. Hampir 80 persen yang hadir adalah perempuan. Pun demikian, rentang usia mereka sangat beragam.

Mulai siswi SMP, SMA, ibu yang sedang hamil muda ditemani suami, rombongan keluarga berisi ibu dan ayah bersama beberapa anaknya, hingga pasutri dengan rambut beruban telah antre. Atalia Praratya, istri Walikota Bandung Ridwan Kamil, juga tampak di antara penonton.

Tingkah laku para penonton ini juga menyajikan aneka cerita tersendiri. Misalnya saja ulah sekitar puluhan penonton remaja yang berlesehan di teras depan pintu masuk pertama.

Kehadiran jurnalis membikin mereka langsung pasang aksi meneriakkan yel-yel dukungan kepada Raisa.

Bahkan ketika lensa kamera merekam aksi tersebut, mereka minta direkam ulang karena merasa belum terlalu kompak. Pasalnya semua refleks berperan sebagai dirigen.

“Satu, dua, tiga. Your Raisa,” teriak salah seorang yang akhirnya ditunjuk sebagai dirigen. “Panas… panas… panas… Huuuuuu,” ujar yang lain menimpali sembari mengangkat kedua tangan.

Pintu masuk dibuka tidak lama setelah salat maghrib. Mereka berhamburan masuk setelah melalui pemeriksaan menggunakan metal detector di pintu pertama.

Beberapa orang menyusuri selasar yang menghubungkan pintu masuk pertama dan kedua. Yang lain langsung menuju stan merchandise resmi Raisa di bagian kanan selasar.

Sembari menanti pintu masuk kedua yang merupakan lapisan terakhir sebelum memasuki Eldorado Concert Hall dibuka, para penonton tak lupa berswafoto dengan ponsel masing-masing.

Di sekitar gedung pertunjukan memang terdapat beberapa titik yang bisa dimanfaatkan untuk ber-selfie ria.

Foto Raisa yang terpampang di dinding jadi incaran pertama. Letaknya ada di tengah selasar. Silih berganti orang menjadikannya sebagai latar untuk berfoto. Kebanyakan dari mereka saling minta tolong untuk dipotret.

Di ujung selasar, penonton harus mendaki beberapa anak tangga untuk mencapai pintu masuk gedung konser. Itu adalah pintu kedua sekaligus terakhir.

Di teras sebelah kanan gedung tersebut berdiri stan Elevenia, salah satu toko belanja daring yang turut mendukung tur perdana Raisa ini.

Stan yang dijaga beberapa sales promotion girl itu menghadirkan photo box yang menggunakan serupa kamera polaroid. Mereka yang telah mengunduh aplikasi Elevenia di ponselnya bisa menikmati layanan tersebut.

Hasil foto mereka dicetak dua lembar; satu untuk dipajang di stan tersebut dan satu lagi boleh dibawa pulang sebagai kenangan.

Jika ada yang berminat menulis pesan dan kesannya untuk Raisa, tersedia secarik kertas ukuran kecil warna-warni yang telah diberi perekat. Semua kertas yang telah berisi ragam tulisan itu ditempel pada dinding bertajuk “Pesan untuk Raisa”.

Hanya berjarak beberapa langkah di depan stan Elevenia, tepatnya di sisi kiri pintu masuk kedua, terpajang tiga foto Raisa berukuran 17R dengan bingkai berwarna emas. Lagi-lagi itu menjadi sasaran swafoto.

Bus tur Raisa yang terparkir di sisi kanan depan gedung Eldorado Concert Hall juga tak ketinggalan dijadikan latar untuk berfoto ria.

Sementara stan Oppo, pendukung lain tur ini, menghadirkan aneka games berhadiah. Semua tampak asyik memanfaatkan aneka suguhan tersebut sembari menunggu pintu kedua dibuka. Tiada kerusuhan.

Penampilan Raisa di Eldorado Concert Hall, Bandung (7/10/2016) Penampilan Raisa di Eldorado Concert Hall, Bandung (7/10/2016) © Andi Baso Djaya/Beritagar.id

Pertunjukan dimulai tepat sesuai jadwal, pukul 20.00 WIB. Seperti biasa, ruangan konser dibuat gelap gulita. Hanya penonton di baris terdepan yang bisa melihat bahwa band pengiring telah siap di atas panggung.

Harris Pranowo sebagai pemain keyboard berada di sisi kiri penonton bersama bassis Amal Baskara. Marco dengan set drum bertuliskan nama Raisa pada bagian bass drum menempati posisi tengah. Di bagian kanan berdiri Ade Averi (gitaris) ditemani penyanyi latar Marini dan Dika.

Saat intro Handmade berkumandang, Raisa muncul menaiki panggung dari sisi kiri penonton. Histeria yang berasal dari sekitar 1.200 penonton yang memadati ruangan tercipta seketika. “Tentang Cinta” dipilih sebagai lagu pertama.

Raisa menepati janjinya untuk menyanyikan semua lagu dari album Handmade. Hanya saja repertoarnya tidak sama persis seperti yang ada dalam album.

Buktinya lagu “Kali Kedua” yang aslinya menempati urutan kedua dalam album menjadi lagu penutup yang dibawakan malam itu.

Sementara “Tentang Cinta” sejatinya adalah lagu keempat dalam versi album (jika intro Handmade yang berdurasi 1:25 menit tidak dihitung).

Satu lagu dari album ketiga penyanyi kelahiran Jakarta, 6 Juni 1990, yang absen dibawakan malam itu adalah “Percayalah” (lagu duet dengan Afgan).

Tuntas mendendangkan “Tentang Cinta”, Raisa menyapa penonton. “Hai guys. Apa kabar? Jadi saat menulis lagu ini, saya ingin kita selalu berpikir positif. Jangan negatif melulu,” ungkapnya.

Setelah itu meluncurlah “Love You Longer”.

Pada momen tersebut sekali lagi penonton ikut bernyanyi sejak awal hingga akhir. Raisa dibuat takjub. “Enggak menyangka kalian sudah hafal sama lagu tadi,” kata Raisa menimpali respons penonton yang telah ikut menyanyi.

Walau telah dirilis pada medio April 2016, album tersebut memang masih tergolong baru. Karena itu Raisa tidak menyangka penonton bisa dengan cepat menghafal keseluruhan lagu-lagu barunya, bahkan yang belum dijadikan single sekalipun.

Berbeda misalnya dengan “Percayalah”, “Kali Kedua”, dan “Tentang Cinta” yang telah meluncur sebagai lagu tunggal jagoan album tersebut.

Salah seorang penonton asal Bandung bernama Oktovi yang datang bersama kawannya, Sally, mengaku suka semua lagu dari album terbaru Raisa itu. “Terutama ‘Nyawa dan Harapan’. Itu lagu favoritku,” ujarnya saat ditemui Beritagar.id sebelum konser.

“Sama sih. Selain itu Raisa juga cantik dan talentanya banyak banget. Lagu Raisa favoritku ‘Mantan Terindah’. Hahaha,” tambah Sally. Mereka berdua baru kali ini menghadiri konser Raisa.

Usaha Raisa menjalin komunikasi dengan penonton, walau durasinya terkadang berlebihan, bukan satu-satunya yang terasa istimewa malam itu. Dukungan tata cahaya dan visual menarik juga menjadi pembeda dibanding beberapa pertunjukan Raisa terdahulu.

Penggunaan moving head, pinspot, dan parabolic aluminized reflector membuat ruangan bertambah semarak. Kombinasi penggunaan lampu tersebut menghadirkan beragam ornamen cahaya. Meriah tapi tak berlebihan.

Suguhan visual yang dirancang Isha Hening juga tidak kalah sedap dipandang mata. Setiap suguhan yang ditampilkan berfungsi menambah kental makna dari setiap lagu yang dibawakan.

Misalnya saat “Sang Rembulan” mulai dinyanyikan. Gambar berupa untaian bulan dan bintang bertebaran di layar.

Tiba saatnya lagu “Nyawa dan Harapan” yang menempati urutan ke-11 dalam konser, deretan plasma menayangkan gambar berupa tumpahan minyak dan awan yang telah menghitam lantaran polusi.

Lagu yang dalam versi album menampilkan kelompok paduan suara dari sekolah Dian Didaktika itu memang mengusung tema kemanusiaan. Sangat berbeda dibanding tema sejumlah dalam album Handmade yang bercerita tentang asmara.

Sebelum membawakan lagu tersebut, Raisa mendadak bicara topik serius. Bukan lagi perkara betapa gugupnya dia mengawali konser malam itu atau candaan tentang orang-orang jomlo yang setelah itu disambut suara tawa penonton.

“Lagu ini saya tulis setelah menonton sebuah film tentang limbah. Jadinya film itu agak horor buat saya. Kita ini sebenarnya menanggung dosa yang dibuat oleh generasi sebelum kita,” katanya.

“Mereka yang melakukan, kita yang menanggung akibatnya. Sebagai generasi penentu yang hidup pada era sekarang, saya berharap kita tidak mewariskan dosa serupa untuk generasi di bawah kita,” sambungnya.

Cukup panjang juga pemaparan Raisa terkait latar pembuatan lagu tersebut. Selesai berbicara, ia mempersilakan delapan siswi anggota choir dari SMP 2 Bandung untuk naik ke atas panggung. Kolaborasi mereka menghadrikan tepukan tangan yang riuh dari penonton.

Secara umum, Raisa telah berhasil memberi suguhan spesial bagi para penonton. Tata suara, cahaya, visual, ditambah lagi musikalitas musisi pengiring dan vokal Raisa memberikan perpaduan apik.

Tidak berlebihan juga jika menyebut Raisa adalah salah seorang penyanyi terbaik pada generasinya.

Selama menyanyikan 13 lagu, kemampuan olah vokalnya stabil sejak detik awal. Bahkan ketika harus menggapai nada-nada tinggi, head voice-nya yang melengking tak terpeleset sedikitpun. Pun saat mempraktikkan teknik falset dan vibrato.

“Tata cahaya dan backdrop visualnya keren banget. Sound-nya juga keren banget. Dari awal kami berdua menunggu ‘Could it Be’. Pas dibawakan rasanya pecah banget,” ujar Emir, salah satu penonton yang datang bersama empat temannya.

Satu-satunya kekurangan dari konser kali ini adalah durasi 1 jam 15 menit yang dianggap masih kurang lama. Tepat pada pukul 21.15, konser berakhir.

Beberapa penggemar yang ditemui Beritagar.id mengeluhkan itu. Pun absennya penyanyi lain sebagai bintang tamu.

Hal tersebut pula yang membuat lagu “Percayalah” absen dibawakan malam itu. Lagu yang termuat dalam Handmade tersebut dibawakannya bersama Afgansyah Reza (27).

“Waktunya terasa singkat. Harusnya dipanjangin lagi. Terus enggak ada bintang tamu. Biasanya kan dia mengajak penyanyi lain untuk menyanyi bareng. Malam ini enggak ada,” kata Muki.

“Ke depannya kalau bisa durasi konser ditambah lagi dong,” tambah Emir. Oktovi dan Sally yang tak sengaja kami temui lagi seusai konser juga menuturkan hal serupa. Menurut dua siswi sekolah menengah pertama itu, materi lagu kurang banyak.

Raisa seolah menyadari masukan dari beberapa penggemarnya.

“Tadi sih kita sempat ada pembicaraan untuk menambah jumlah lagu biar durasinya agak panjang, meskipun konser yang tadi sudah lumayan banyak lagu yang kita bawakan. Cuma belum tahu seperti apa keputusan finalnya,” ujar Raisa dalam konferensi pers yang berlangsung sekitar setengah jam usai tampil.

Raisa bukannya tidak berusaha mengundang Afgan untuk berduet dalam turnya. Hanya saja dalam waktu bersamaan, solis pria berkacamata itu sedang disibukkan dengan jadwal tur bertajuk “SIDES – Indonesia Tour 2016” yang juga menyinggahi beberapa kota di Indonesia.

“Yang pasti kota-kota berikutnya harus lebih baik dari ini,” janji Raisa.

Deretan kota yang jadi persinggahan “OPPO Raisa Handmade Tour” berikutnya adalah The Hall Surabaya (19 Oktober), UMM Dome Malang (22 Oktober), Best Western Hotel Solo (26 Oktober), dan Sahid Hotel Yogyakarta (26 Oktober).

Para penggemar di kota-kota berikutnya bisa berharap mendapatkan aksi lebih spesial dari Raisa dibanding yang tersaji di Eldorado, Bandung.

Melihat kesungguhan dan dukungan tim yang solid, Raisa tampaknya bakal mampu mewujudkan janji tersebut.

Bagikan dengan cinta...
Loading...

Related posts