Saat kalangan difabel beraksi di Peparnas 2016

0
0

Atlet judo Jawa Barat Riswandi S. (kiri) melawan atlet Riau Zulkam Z. dalam babak kualifikasi judo tuna netra kelas -55 kg Peparnas XV di GOR Padjajaran, Bandung, Jawa Barat, Senin (17/10/2016).

Atlet judo Jawa Barat Riswandi S. (kiri) melawan atlet Riau Zulkam Z. dalam babak kualifikasi judo tuna netra kelas -55 kg Peparnas XV di GOR Padjajaran, Bandung, Jawa Barat, Senin (17/10/2016). © Maulana Surya /Antara Foto

Sudah dua hari Pekan Paralimpiade Nasional (Peparnas) 2016 berlangsung di Bandung, Jawa Barat. Sampai hari ketiga (Selasa 18/10/2016), tuan rumah memimpin klasemen dengan 48 medali emas, 24 medali perak, dan 19 medali perunggu.

Gaung pekan olahraga bagi kalangan difabel ini tak terlampau besar. Sejumlah arena (venue) juga tidak terlalu riuh oleh suara penonton. Tapi jangan ragukan semangat para atletnya.

Laura Aurelia Dinda, atlet renang putri asal Kalimantan Timur, misalnya. Atlet berusia 17 ini menunjukkan kegigihan setelah harus melanjutkan hidup di atas kursi roda.

Dan di Peparnas pertamanya, Laura berhasil meraih medali perak pada nomor 100 meter gaya bebas. Diberitakan situs resmi Peparnas, Laura mengaku sempat terpukul ketika mendapat musibah sehingga tak bisa lagi berjalan.

Padahal Laura adalah seorang atlet renang yang mulai menggelutinya sejak umur tiga tahun. Tapi berkat motivasi orang tua dan dirinya punya penyakit asma, Laura bangkit.

“Teman-teman saya yang atlet normal sering bertanya ‘Ngapain sih ikutan yang kaya gitu? Kenapa enggak berhenti saja,” kata Laura menirukan pertanyaan dari rekannya.

Kegigihan juga ditunjukkan para atlet renang lain. Di tengah kekurangan organ tubuh; misal hanya punya kaki atau tangan satu setengah, laju mereka di kolam renang GOR Pajajaran Bandung bak atlet renang pada lazimnya.

Tentu saja catatan waktu atlet difabel dengan atlet normal berbeda cukup signifikan. Misalnya dibandingkan dengan catatan waktu di PON 2016 di Jawa Barat pula.

Pada nomor 100 meter gaya bebas putri PON 2016, atlet Jawa Barat Ressa Kania Dewi mencatat waktu 57,71 detik sekaligus rekor baru PON. Sementara di Peparnas, catatan terbaik adalah 1 menit 24,120 detik.

Bukan cuma perjuangan atlet renang difabel yang mengundang kagum. Wakil Gubernur Jawa Barat Deddy Mizwar saat menyaksikan pertandingan tenis meja di Gedung Tenis Indoor Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Bandung, juga mendapat kesan positif.

Deddy senang melihat para atlet semangat bermain tenis meja meski anggota tubuhnya tak lengkap dan sepintas menyulitkan bagi orang dengan anggota tubuh yang lengkap.

“Mereka semangat, tidak terganggu dengan keterbatasannya,” kata Deddy.


 

Atlet tenis meja Kalimantan Selatan Yardi melakukan servis dengan dibantu kaki kirinya saat menhghadapi atlet DI Yogyakarta Nicky Yanto dalam Peparnas XV di Lapangan Tenis Indoor UPI, Bandung, Jawa Barat, Senin (17/10/2016). Atlet tenis meja Kalimantan Selatan Yardi melakukan servis dengan dibantu kaki kirinya saat menhghadapi atlet DI Yogyakarta Nicky Yanto dalam Peparnas XV di Lapangan Tenis Indoor UPI, Bandung, Jawa Barat, Senin (17/10/2016). © Sigid Kurniawan /Antara Foto

Karena ini ajang khusus kalangan difabel, pelaksanaan cabang juga menggunakan cara khusus. Misalnya pada cabang judo tuna netra yang baru kali ini digelar dalam Peparnas.

Secara umum, peraturan tetap sama. Wasit senior Judo, Iwan Yunar, kepada Antaranews, menjelaskan bahwa waktu normal pertandingan tetap empat menit dan peserta yang mencatat nilai Ippon (nilai mutlak) otomatis memenangi pertandingan.

“Atau main bawah dengan kuncian 20 detik, dapat poin. Membanting lawan namun posisinya tidak jatuh sempurna dan lawan langsung bangun, belum ada poin. Poin tertinggi Ippon, disusul Wazari dan Yuko,” ujar Iwan menjelaskan.

Tapi tata caranya berbeda. Mata masing-masing judoka ditutup dengan pelindung khusus. Tujuannya agar mata tak menuai cedera.

Kemudian pendamping masing-masing membawa sang atlet ke arena. Selanjutnya seorang wasit memposisikan dua judoka saling berhadapan dalam waktu dekat tapi kaki masing-masing ada di belakang garis.

Berikutnya wasit akan memposisikan tangan judoka menggenggam bagian atas baju lawan masing-masing. Bila sudah siap, wasit akan berkata “Mulai” (Hajime) sebagai tanda pertandingan digelar.

Lalu tata cara tak lazim juga terdapat dalam cabang bola voli (duduk). Cabang ini memang diperuntukkan bagi kalangan difabel kaki.

Arena mainnya seluas 10×6 meter dan ruang menyerang seluas 2 meter. Sedangkan ketinggian net untuk putra 1,15 meter dan bagi putri adalah 1,05 meter.

Pertandingan bola voli duduk putri antara Kalimantan Timur (hijau kuning) dan Jawa Timur dalam Peparnas XV di GOR Saparua Bandung, Jawa Barat, Ahad (16/10/2016). Pertandingan bola voli duduk putri antara Kalimantan Timur (hijau kuning) dan Jawa Timur dalam Peparnas XV di GOR Saparua Bandung, Jawa Barat, Ahad (16/10/2016). © Nova Wahyudi /Antara Foto

Bagikan dengan cinta...
Loading...

Tulis gagasan