Salah kaprah hari tanpa beha

Loading...

Sejumlah peserta menghias bra pada kompetisi brativity di Surabaya, Jawa Timur, Jumat (23/9).

Sejumlah peserta menghias bra pada kompetisi brativity di Surabaya, Jawa Timur, Jumat (23/9). © Moch Asim /Antara Foto

Hari tanpa kutang (beha, bra), yang lebih dikenal dengan tagar #NoBraDay, kembali mencuri perhatian netizen.

Kamis siang (13/10/2016), tagar itu terlihat memuncaki Tren Twitter Indonesia. Tren ini memang terus berulang saban tahun, tepatnya pada 13 Oktober.

Perkaranya, #NoBraDay kerap disambut kicauan-kicauan saru. Jauh dari kata senonoh.

Dalam kicauan macam itu, ada kesan beberapa tweeps menunggu momen #NoBraDay, demi menyaksikan para perempuan memamerkan foto tanpa kutang.

Sebagai contoh, sila simak kicauan-kicauan berikut.

Beberapa kicauan #NoBraDay, agaknya sejumlah akun ini tak sabar menanti para perempuan memamerkan foto menanggalkan kutang. Beberapa kicauan #NoBraDay, agaknya sejumlah akun ini tak sabar menanti para perempuan memamerkan foto menanggalkan kutang. © Istimewa /Twitter

Padahal, saban tahun, dalam riuh tagar #NoBraDay senantiasa muncul penjelasan soal tujuan kampanye ini sebagai usaha mendorong kesadaran pencegahan kanker payudara.

Tak terkecuali pada tahun ini. Sejumlah pengguna Twitter berkicau dan berusaha meluruskan makna #NoBraDay.

Adapun kampanye #NoBraDay pertama kali diinisiasi pada 13 Oktober 2011, di Amerika Serikat. Kampanye ini juga tidak terlepas dari peringatan Bulan Kesadaran Kanker Payudara, yang jatuh tiap Oktober, atau biasa dikenal sebagai “Pinktober”.

Beberapa tahun terakhir, muncul pula kritik terhadap #NoBraDay. Termasuk dari kalangan penyintas kanker payudara.

Mereka berpandangan kampanye macam ini sama sekali tak perlu, dan malah menyakitkan di mata penyintas.

Leisha Davison-Dasol, penyintas kanker payudara asal AS, adalah salah seorang yang menentang #NoBraDay.

“Melihat perempuan yang tidak menggunakan kutang, memamerkan dua bagian tubuh, yang tidak lagi saya miliki, tidak membuat saya merasa mereka mendukung (penyintas), justru sebaliknya,” kritik Davison-Yasol, yang juga dikenal sebagai narablog untuk topik kanker itu.

Hal serupa juga dikeluhkan penyintas lain, Bonnie Annis, dalam artikelnya di Cure–sebuah media khusus isu-isu kanker.

Annis menyebut, #NoBraDay justru memberikan kesempatan bagi para lelaki untuk “bermain mata dan tertawa” tentang perempuan. Satu hal yang sama sekali tak diinginkannya.

Alih-alih mendukung #NoBraDay, Annis mengusulkan”Bare Chest Day” (Hari Telanjang Dada). Dalam konsep itu, para penyintas kanker payudara, perempuan maupun laki-laki, bisa menunjukkan bekas luka mastektomi–operasi pengangkatan payudara–untuk dilihat banyak orang.

“Mungkin, dengan itu orang-orang bisa melihat betapa seriusnya dampak kanker payudara. Sekaligus membuat #NoBraDay jadi sesuatu yang ketinggalan jaman,” tulis Annis.

Perihal hubungan antara penggunaan kutang dan kanker payudara sudah terbantahkan dalam banyak riset–sekadar mitos. Anda bisa membaca lengkap ihwal topik itu di artikel “Tujuh fakta dan mitos kanker payudara”.

Adapun data Kementerian Kesehatan Indonesia (2013), menunjukkan bahwa di antara seluruh kasus kanker di Indonesia, kanker payudara merupakan salah satu yang tertinggi–selain kanker serviks dan prostat. Merujuk data itu, dari 347.792 orang penderita kanker di Indonesia, 61.682 orang di antaranya menderita kanker payudara.

Sekadar informasi, di luar perkara kanker payudara, sebenarnya ada pula perayaan hari tanpa kutang karena alasan lain. Misalnya, yang diperingati tiap 9 Juli di AS, dan berfokus pada usaha mendengungkan kebebasan perempuan.

Bagikan dengan cinta...
Loading...

Tulis komentar