Sidang Ke-28 Jessica Hari Ini 12 Oktober 2016 | Pledoi Jessica

Loading...

Sidang Ke-28 Jessica Hari Ini 12 Oktober 2016 | Pledoi Jessica

Jessica Kumala Wongso (via pinterest.com)

Sidang Ke-28 Jessica Hari Ini 12 Oktober 2016 – Jessica Kumala Wongso membacakan nota pembelaan yang ia tulis sendiri sambil menangis.

“Saya tidak pantas diperlakukan seperti sampah. Saya mengerti kesedihan mereka. Saya juga merasa kehilangan. Yang mulia, saya tidak dapat menggungkapkan perasaan saya dengan kata-kata,” kata Jessica sambil menangis.

Menurut Jessica, apa yang tidak dilakukannya sudah sangat dibesar-besarkan. Padahal dia tidak pernah membunuh Mirna, yang merupakan sahabatnya sendiri.

“Semua yang saya tidak lakukan sudah dibesar-besarkan,” katanya.

Jessica memnbantah telah membunuh sahabatnya dengan memasukan Sianida ke dalam kopi yang ia pesan.

Namun Jessica tetap dituduh, ia pun mengakui mendapat pandangan sinis terlebih dari pihak keluarga Mirna.

“Saya hanya bisa menerima perlakuan itu sambil terus berdoa ada jalan keluar,” kata Jessica.

Jessica pun sempat menyebut jika Mirna pun mengetahui bahwa dia tidak mungkin merancuni seseorang.

“Dia tahu saya tidak mungkin meracuni orang,” Kata Jessica.

Usai Jessica membacakan nota pembelaan tersebut pada persidangan hari ini, Rabu, 12 Oktober 2016.

Giliran tim kuasa hukumnya yang membacakan pledoi atau pembelaan yang hampir 4000 halaman.

Inti dari Pledoi yang dibacakan kuasa hukum Jessica yang diketuai Otto Hasibuan, mengungkapkan ada beberapa kejanggalan dalam kematian Wayang mirna Salihin.

Berikut kejanggalan-kejanggalan yang dikemukakan Otto damal sidang ke-28 hari ini, Rabu (12/10/16) di Pengadilan Negeri Jakarta yang bersumber dari Antaranews.

1. Tidak ada bukti Mirna meninggal akibat sianida
Otto mengatakan tidak ada sianida saat cairan lambung Mirna diperiksa. Hal tersebut didasarkan pada hasil Visum beberapa jam usai Mirna Meninggal.

Dalam pemeriksaan selanjutnya, tiba-tiba di lambung Mirna terdapat Sianida. Padahal, bila memang meminum sianida, seharusnya zat tersebut bisa dideteksi di lambung, hati, urin, darah, jantung dan otak dari sejak awal.

Baca juga:  Hidden Figures masih kuasai box office

Otto berpendapat kemungkinan kopi yang diminum Mirna tidak mengandung sianida. Atau setelah Mirna meninggal, ada yang memasukkan sianida ke gelas yang diminumnya, entah itu di Kafe Olivier atau tempat lain.

Atau Sianida yang muncul di tubuh Mirna kemungkinan terbentuk akibat proses alami pada orang meninggal.

“Jadi tidak terbukti korban mati karena sianida, maka tak ada kasus pembunuhan, apalagi berencana. Jadi sesungguhnya jaksa penuntut telah salah membawa kasus ini ke pengadilan ini.” Kata Otto Hasibuan

2. Tidak ada otopsi Kesimpulan Jaksa Spekulatif
Menurut ahli patologi, penyebab kematian Mirna tidak bisa ditetapkan tanpa adanya otopsi. lebih lanjut, Ketua Perhimpuana Advokat Indonesia itu mengatakan jaksa penuntut langsung menuduh Jessica meski belum pasti bahwa Mirna meninggal akibat racun sianida.

“Kesimpulan jaksa ini spekulatif,” katanya.

Otto melanjutkan, jaksa penuntut umum membuat seakan-akan keluarga Mirna keberatan soal otopsi.

Jaksa kemudian membacakan transkrip pembicaraan ayah Mirna, Darmawan Salihin, yang intinya menyetujui otopsi.

3. Jessica dituduh membunuh karena tidak menolong Mirna saat meregang nyawa.
Otto mengmukakan sebaliknya, seringkali pembunuh berpura-pura simpati atau menolong orang yang dibunuhnya untuk menutupi aksinya.

4. Pembantu Jessica yang disebut membuang celana robek majikannya.
Menurut Otto, gara-gara celana tersebut masyarakat sontak menghakimi Jessica sebagai pembunuh.

Otto Hasibuan juga mempertanyakan keberadaan pembantu yang tak pernah muncul di persidangan.

5. Orang dari Kafe Olivier yang Mengambil rekaman CCTV ke flashdisk tidak pernah ada di persidangan.

Selain tidak adanya Berita acara pengambilannya, Otto juga mengatakan  bahwa hal tersebut membuat tidak adanya bukti dari masa asal flashdisk tersebut.

6. Teori Fisiognomi.
JPU menggunakan teori ini untuk mengungkap misteri kematian Mirna salihin, kata Otto, teori sudah lama ditinggalkan. Ini bukan sains, melainkan seni membaca wajah yang ada sejak abad ke-6 sebelum masehi.

Baca juga:  Kenapa Masyarakat Sampai Rela Kucurkan Dana Ratusan Juta Rupiah Demi Jadi PNS ?

“Tidak ada bukti sampai terpaksa pakai cara ini?” tanya Otto.

7. Manipulasi CCTV.
Jaksa Penuntut Umum mengatakan banyak gerak-gerik Jessica yang terlihat dari CCTV yang memperlihatkan dia sebagai seorang penaruh racun.

Salah satunya adegan Jessica menggaruk-garuk paha karena sianida. Otto mengatakan, gerakan itu tidak muncul lagi karena ternyata Jessica hanya satu kali menarik celananya yang sempit, namun gerakan itu dibuat berulang sehingga terkesan menggaruk.

“Tempering, atau manipulasi. CCTV yang diedit ini tidak bisa jadi barang bukti.”  Kata Otto.

8. Ada kamera CCTV yang mengarah langsung ke meja tempat Jessica duduk di Kafe Olivier tapi tidak pernah ditayangkan oleh jaksa penuntut umum.

Padahal, semua gerakan Jessica bisa dilihat dari rekaman kamera tersebut.

“Hampir 50-100 email setiap hari yang masuk yang menyatakan dukungan dan simpati,” kata Otto Hasibuan, saat menyampaikan nota pembelaan (pledoi) di PN Jakarta Pusat, Rabu.

Dia mengatakan, Jessica juga sering mendapat oleh-oleh dari pengunjung sidang dari berbagai tempat.

Seperti dari orang Papua yang memberikan batu cincin, ada juga yang memberinya kain ulos, dan buku.

“Bahkan dapat roti boy, pisang dan makanan-makanan lain,” kata Otto.

Pihak Kuasa Hukum Jessica dalam hal ini, Otto Hasibuan meminta maaf kepada orang-orang yang sudah memberi dukungan dan pesan-pesannya tidak sempat dibawa ke sidang pembacaan pledoi hari ini.

Sempitnya waktu persiapan menjadi satu kendala. Penasehat hukum Jessica menyiapkan nota pembelaan (pledoi) sebanyak 4.000 lembar yang dikerjakan hingga dini hari tadi.

Bagikan dengan cinta...
Loading...

Tulis komentar