Sisi lain para dokter dalam Catatan Dodol Calon Dokter

Loading...

Para bintang utama Catatan Dodol Calon Dokter dari kiri ke kanan: Tika Bravani, Adipati Dolken, dan Aurelie Moeremans.

Para bintang utama Catatan Dodol Calon Dokter dari kiri ke kanan: Tika Bravani, Adipati Dolken, dan Aurelie Moeremans. © Indra Rosalia /Beritagar.id

Profesi dokter identik dengan orang-orang yang cerdas dan memiliki kesan serius. Tentu saja, sebab tugas mereka berhubungan dengan kesehatan dan nyawa manusia. Namun, dokter juga manusia, yang ada masanya mereka bertindak konyol, alias dodol.

Hal itu diangkat oleh sutradara Ifa Isfansyah dalam film Catatan Dodol Calon Dokter. Film ini mengisahkan suka duka yang dialami calon dokter dalam masa-masa ko-as –kependekan dari co-assistant, saat para dokter muda mengaplikasikan teori-teori yang sudah mereka dapat dalam semester-semester sebelumnya.

Alkisah ada ko-as bernama Riva (Adipati Dolken), yang kuliah kedokteran hanya karena ikut-ikutan Evi (Tika Bravani) dan Budi (Ali Mensan), teman SMA-nya. Riva sebenarnya memendam asmara kepada Evi, juga sebaliknya, namun dokter pembimbing mereka (Adi Kurdi) memisahkan para dokter muda ini ke dalam dua kelompok berbeda, untuk memperebutkan beasiswa ke Korea Selatan.

Suasana semakin memanas dengan hadirnya Vena (Aurelie Moeremans), ko-as cantik yang tiba-tiba masuk karena dia adalah anak ketua yayasan. Apalagi, Riva kemudian berpacaran dengan Vena, membuat pertemanan Evi dan Riva berada di ujung tanduk.

Di tengah-tengah persaingan itu, sebuah kejadian nahas membuat Riva ragu dan mempertanyakan pilihannya untuk menjadi dokter.

Film ini diangkat dari buku “Cado-cado: Catatan Dodol Calon Dokter” yang ditulis oleh Ferdiriva Hamzah, dokter spesialis mata tamatan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Ia juga diminta untuk menjadi konsultan dan menjaga akurasi dalam film ini.

Cerita film ini diangkat dari kisah Ferdiriva sendiri, ketika keraguan menyelimutinya saat menjadi ko-as. “Evi, Riva, dan Budi, serta karakter lain itu ada. Tapi nggak semuanya pakai nama asli. Nah, saya juga sempat putus asa sewaktu masa-masa ko-as, karena bebannya berat sekali,” jelas Ferdiriva kepada Beritagar.id saat konferensi pers Catatan Dodol Calon Dokter di XXI Gandaria City, Jakarta Selatan (12/10/2016).

“Saya ragu, apakah saya sanggup atau tidak. Karena jadi dokter itu urusan nyawa orang lain,” jelas pria yang mengaku hobi menulis sejak SD ini.

Beberapa kejadian memang diangkat dari pengalaman Ferdiriva, termasuk kekonyolan yang terjadi. “Di balik keseriusan itu, tentu saja ada kekonyolan yang dialami mahasiswa.” Menurut dokter yang berpraktik di Jakarta Eye Center ini, saat-saat ko-as, para mahasiswa kedokteran pasti mengalami keterkejutan, seperti karakter Vena yang muntah saat melihat darah pasien yang sedang dioperasi.

“Itu kejadian betulan, saat itu teman saya juga langsung diusir oleh dokter yang mengepalai operasi,” jelas pria yang sempat menjadi cameo sebagai salah satu dokter di film ini. “Bagaimana nggak terkejut, mereka (para ko-as) dari semester pertama hingga kedelapan cuma duduk belajar di ruang kuliah, tiba-tiba harus berhadapan langsung dengan pasien,” ujar Ferdiriva sambil tertawa.

Film ini memang dibalut dengan komedi, yang dimunculkan dari kekonyolan karakter-karakter dokter yang beraneka ragam. Namun, segala sesuatu yang berhubungan dengan dunia medis dijamin akurat oleh Ferdiriva.

Keakuratan ini diamini oleh Ifa, sang sutradara. “Sutradara bukan orang yang tahu semuanya. Saya harus mencari tahu dan bisa beradaptasi dengan itu. Oleh karena itu, saya dibantu beberapa dokter, termasuk Dr. Riva,” jelas Ifa.

Memang, karena beragam faktor, ada beberapa adegan medis yang ritmenya sedikit berbeda dengan kejadian sebenarnya, meskipun tidak mengganggu tingkat akurat dalam film ini. “Itulah seninya bikin film, saya bisa memampatkan dan memolorkan waktu,” ujar sutradara Pendekar Tongkat Emas (2014) ini.

Ifa mempersembahkan film ini pada para dokter Indonesia. “Profesi dokter penting untuk diangkat dengan perspektif yang bagus. Nah, cerita ini punya potensi seperti itu. Itu motivasi saya membuat film ini,” ungkap pria berusia 36 ini.

Para pemain juga sependapat dengan sang sutradara. “Aku ingin film ini bisa bikin orang menghargai dokter. Karena tanggung jawabnya besar, apalagi sekarang ada program BPJS yang terkadang bikin jumlah pasien melonjak naik,” ujar Tika Bravani.

Aktor utama Adipati Dolken menganalogikan sulitnya menjadi dokter dengan bidang yang ia geluti. “Dokter itu seperti aktor. Mereka harus bisa akting, misalnya membujuk pasien agar nggak ketakutan. Itu nggak gampang,” ungkap Adipati.

Catatan Dodol Calon Dokter akan tayang di jaringan bioskop di Indonesia mulai 27 Oktober 2016. Sebelumnya, sebuah gala premier akan digelar pada 24 Oktober, bertepatan dengan Hari Dokter Nasional.

Di waktu hampir bersamaan, film ini bakal ditayangkan pada Festival Film Internasional Tokyo, yang digelar dari 25 Oktober hingga 3 November.

Bagikan dengan cinta...
Loading...

Tulis komentar