Skor adil untuk Italia dan Spanyol

Loading...

Daniele De Rossi (kanan) merayakan gol penyeimbang 1-1 antara Italia dan Spanyol di Stadion Juventus, Turin, Italia, Jumat dini hari WIB (7/10/2016).

Daniele De Rossi (kanan) merayakan gol penyeimbang 1-1 antara Italia dan Spanyol di Stadion Juventus, Turin, Italia, Jumat dini hari WIB (7/10/2016). © Antonio Calanni /AP Photo

Italia dan Spanyol beruntung bahwa skor 1-1 dalam pertemuan mereka di Turin, Italia, Jumat dini hari WIB (7/10/2016), bukan pertandingan menentukan. Pernyataan pelatih Italia Giampiero Ventura sebelum laga bahwa ini sekadar pertandingan penting boleh jadi benar.

Pertandingan di Stadion Juventus dalam Grup G zona Eropa kualifikasi Piala Dunia 2018 ini belum menentukan nasib dua tim. Tapi Spanyol dan Italia pun harus melorot sejenak dari dua besar.

Kepentingan Ventura dan pelatih Julen Lopetegui di kubu Spanyol adalah pada performa kesebelasan masing-masing. Ventura tentu menuai kesan positif pada kemampuan bertahan timnya.

Sedangkan Lopetegui mendapat pelajaran rumah berharga bagaimana meningkatkan ketajaman para pemainnya apabila mendapat sejumlah peluang. Apalagi Spanyol mendominasi permainan dengan penguasaan bola (ball possesion) 63 persen berbanding 37 persen.

Italia sama sekali tak punya kesempatan melepas tembakan pada babak pertama. Analisis Opta menunjukkan penguasaan bola Italia hanya 28 persen pada 45 menit pertama.

Italia lebih banyak bertahan, bahkan hingga delapan pemain di kotak penalti. Selain rencana awal memang demikian, Italia terpaksa menempuh pendekatan itu lantaran derasnya tekanan Spanyol.

Permainan pendek Spanyol dengan aliran operan segitiga terjadi di seluruh bagian lapangan Italia. Andres Iniesta, David Silva, dan Sergio Busquets selalu menjadi katalisator pergerakan bola Spanyol untuk Koke, Diego Costa, dan Vitolo Perez.

Sementara para pemain Italia berusaha menutup ruang gerak dengan terus merapatkan zona di manapun bola berada. Itu sebabnya para pemain Spanyol kesulitan menemukan ruang tembak ideal untuk mencetak gol.

Pada menit 10, misalnya, Iniesta hanya bisa melepas tembakan lemah di depan gawang Italia dan tepat mengarah ke kiper Gianluigi Buffon.

Tiga menit berselang, penetrasi Silva hingga kotak penalti Italia gagal menembus blokade. Demikian pula bola tembakan pemain Manchester City itu pada menit 17 yang harus keluar lapangan karena terkena punggung Mattia De Sciglio.

Peluang matang bagi Spanyol terjadi pada menit 24. Tapi bola sundulan bek tengah Gerard Pique di posisi ideal di depan gawang juga terlampau lemah dan tak kesulitan dijinakkan Buffon.

Upaya Spanyol baru menuai hasil ketika Buffon melakukan blunder–sesuatu yang sangat jarang dilakukan kiper Juventus berusia 38–pada babak kedua.

Niatnya menyapu bola terobosan Busquets pada menit 54 hanya menemui angin sehingga Vitolo bisa mencetak gol ke gawang yang kosong.

Penyerang Sevilla itu pun kaget melihat blunder Buffon. “Dia kiper legenda, kariernya pun hebat. Saya tak menyangka dia membuat kesalahan,” kata Vitolo kepada TVE (h/t Goal.com).

Vitolo Perez (kiri) merayakan golnya ke gawang Italia bersama Diego Costa Vitolo Perez (kiri) merayakan golnya ke gawang Italia bersama Diego Costa © Antonio Calanni /AP Photo

Perubahan skor membuat permainan Italia berubah. Mereka mulai menyerang, terutama mengandalkan umpan silang dari sayap di sepertiga akhir lapangan Spanyol.

Keberadaan Graziano Pelle sebagai pemantul bola silang dengan postur tubuh setinggi 194 cm cukup membantu serangan Italia. Misalnya terjadi pada menit 56 meski bola pantulannya gagal disambar Eder dan Marco Parolo.

Italia sedikitnya mampu melepas enam bola silang dalam setiap serangan yang cukup frontal (direct ball), terutama pada 10 menit terakhir. Ini menunjukkan kegagalan pertahanan Spanyol mengantisipasinya.

Italia kemudian mendapat peluang menyamakan kedudukan pada menit 82. Bek Spanyol Sergio Ramos melakukan ganjalan terhadap Eder di kotak penalti sehingga melahirkan penalti.

De Rossi memanfaatkan hadiah penalti untuk menyamakan skor 1-1. Dan gol itu meningkatkan semangat Italia meski kemudian tetap tidak berhasil menambah gol karena upaya penyerang pengganti Andrea Belotti dianulir akibat offside.

Sinyalemen bahwa hasil 1-1 menjadi penting bagi pelatih masing-masing pun menjadi kenyataan. Baik Ventura maupun Lopetegui menyatakan keluhannya.

Lopetegui dikutip ESPN FC menyampaikan kemampuan timnya “membunuh pertandingan” sangat rendah. Sementara Italia dinilai punya semangat hebat dan tak mau kalah.

“Secara keseluruhan, permainan kami bagus. Terutama pada babak pertama. Tapi kami tak mampu membunuh pertandingan dan gagal mengatasi permainan langsung Italia pada 20 menit terakhir ketika mereka menurunkan empat penyerang. Kami harus menerima hasil ini,” kata Lopetegui.

Sedangkan Ventura mengatakan para pemainnya terlampau mudah kehilangan bola pada babak pertama, terlepas bahwa Spanyol pasti bernafsu menguasai bola.

Ventura juga mengatakan kesalahan Buffon harusnya tak perlu terjadi bila pemain tengah menjalankan tugas dengan benar. Pelatih berusia 63 ini merujuk pada bebasnya Busquets untuk mengirim bola daerah.

“Spanyol jelas lebih favorit, tapi kami mendapat pesan lain dari laga ini. Kami sadar bahwa kami bisa jika mau berusaha keras, lebih keras dari upaya kami pada laga ini,” kata Ventura kepada RAI Sport (h/t Tribal Football).

Di sisi lain, Albania membuat kejutan karena berhasil mencuri pucuk Grup G dengan kemenangan kedua. Setelah mengalahkan Macedonia pada September lalu, kesebelasan asuhan Giovanni De Biasi ini menundukkan tuan rumah Liechtenstein 2-0.

Sedangkan Macedonia yang juga bertindak sebagai tuan rumah menuai kekalahan. Israel membekapnya 2-1.

Bagikan dengan cinta...
Loading...

Tulis komentar