Surplus neraca perdagangan tertinggi dalam 13 bulan

0
0

Mobil Bea dan Cukai melintas di lapangan penumpukkan kontainer PT Terminal Petikemas Surabaya, Jawa Timur, Senin (19/9/2016).

Mobil Bea dan Cukai melintas di lapangan penumpukkan kontainer PT Terminal Petikemas Surabaya, Jawa Timur, Senin (19/9/2016). © Didik Suhartono /Antara Foto

Neraca perdagangan Indonesia pada September 2016 ini mencetak angka surplus tertinggi dalam 13 bulan terakhir. Surplus neraca percadangan itu dipicu oleh surplus sektor nonmigas sebesar US$1,8 miliar, sementara sektor migas mengalami defisit US$681,1 juta.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai ekspor Indonesia pada September ini sebesar US$12,51 miliar, lebih besar dibanding realisasi impor yang sebesar US$11,30 miliar sehingga mencatatkan surplus US$1,22 miliar. Pada periode yang sama tahun lalu, neraca perdagangan tercatat surplus US$1,02 miliar.

Neraca perdagangan adalah selisih bersih antara nilai ekspor suatu negara dan impor barang dagangan, dengan ekspor yang tercantum di sisi aset dan impor pada sisi kewajiban. Neraca perdagangan adalah positif (surplus) jika ekspor melebihi impor, dan negatif (defisit) jika sebaliknya yang terjadi.

Jangan lewatkan:  Begini Kondisi Novi Amelia yang Masih Depresi dan Belum Bisa Diajak Bicara Usai Teriak-teriak di Jalan !

Nilai ekspor Indonesia September 2016 itu menurun 1,84 persen dibanding ekspor Agustus 2016. Demikian juga dibanding September 2015 menurun 0,59 persen. Penurunan ekspor disebabkan oleh menurunnya ekspor beberapa bahan komoditas, baik sektor migas maupun nonmigas.

Untuk menggenjot kembali ekspor, pemerintah disarankan melakukan diversifikasi ekspor, baik produk maupun daerah tujuan. “Dari sisi internal harus melakukan diversifikasi. Lalu juga harus cari tujuan ekspor yang baru,” ujar Kepala BPS, Suhariyanto melalui Okezone.

Tujuan ekspor dapat melirik negara-negara di kawasan Afrika yang banyak menggantungkan beberapa bahan komoditas dari Indonesia. Afrika dan negara-negara di Amerika dapat menjadi tujuan karena Tiongkok dan Eropa diperkirakan belum akan memberikan kontribusi terhadap peningkatan nilai ekspor Indonesia.

Jangan lewatkan:  Terkena Imbal Hasil Obligasi, Harga Emas Turun

Secara kumulatif nilai ekspor Indonesia Januari-September 2016 mencapai US$104,36 miliar atau menurun 9,41 persen dibanding periode yang sama tahun 2015, demikian juga ekspor nonmigas mencapai US$94,66 miliar atau menurun 6,09 persen.

Ekspor nonmigas ke Amerika Serikat September 2016 mencapai angka terbesar yaitu US$1,36 miliar, disusul Tiongkok US$1,35 miliar dan Jepang US$1,11 miliar, dengan kontribusi ketiganya mencapai 33,28 persen. Sementara ekspor ke Uni Eropa (28 negara) sebesar US$1,22 miliar.

Sementara nilai impor Indonesia September 2016 mencapai US$11,30 miliar atau turun 8,78 persen apabila dibandingkan Agustus 2016, demikian pula jika dibandingkan September 2015 turun 2,26 persen.

Jangan lewatkan:  Bantuan asing mulai datang ke Aceh

Secara kumulatif nilai impor Januari-September 2016 mencapai US$98,69 miliar atau turun 8,61 persen dibanding periode yang sama tahun 2015. Kumulatif nilai impor terdiri dari impor migas US$13,74 miliar (turun 29,19 persen) dan nonmigas US$84,95 miliar (turun 4,10 persen).

Tiga negara asal barang impor nonmigas terbesar Januari September 2016 adalah Tiongkok dengan nilai US$21,99 miliar (25,88 persen), Jepang US$9,48 miliar (11,16 persen), dan Thailand US$6,64 miliar (7,81 persen). Impor nonmigas dari ASEAN mencapai pangsa pasar 21,82 persen, sementara dari Uni Eropa 9,17 persen.

Bagikan dengan cinta...
Loading...
Bagikan
Artikel sebelumnyaMengapa Anda sulit fokus
Artikel berikutnyaEfektifkah satgas sapu bersih memberantas pungli?
mm
Media elektronik bisa dijadikan jendela informasi yang membangun dan mencerdaskan bangsa. Generasi muda Indonesia mulai gemar membaca untuk memperkaya wawasan dan pengetahuan. Mari kita isi dunia baca Indonesia dengan berita positif demi masa depan bangsa. Selamat berdiskusi... [Meidiana Said - Lintas Cybermedia]

Tulis gagasan