Tarik ulur calon pemeran Janis Joplin

Loading...

Michelle Williams jadi kandidat terbaru untuk memerankan film biografi drama tentang penyanyi blues Janis Joplin.

Michelle Williams jadi kandidat terbaru untuk memerankan film biografi drama tentang penyanyi blues Janis Joplin. © Justin Lane/EPA

Rentang kehidupan penyanyi Janis Joplin memang hanya sampai 27 tahun. Tapi nama dan karya-karyanya terus dikenang, dibicarakan, dan pada akhirnya menjadi komoditas jauh melampaui usianya. Salah satunya adalah rencana mengadaptasi kisah hidup pelantun “Cry Baby” itu dalam film.

Silih berganti aktris telah dikaitkan ikut serta dalam proyek tersebut. Pada akhirnya deretan kandidat berguguran di tengah jalan.

Kabar terbaru diembuskan Variety (10/10/2016). Salah satu alumni serial Dawson’s Creek (pernah ditayangkan TPI kurun 1998-2003) paling bersinar di ranah film, Michelle Williams (36), kabarnya telah dipinang untuk terlibat dalam film biografi drama berjudul Janis yang diarahkan Sean Durkin.

Film yang jadi proyek kongsi antara Borderline Films, Uncommon Productions, Interal, dan Seven Hills Productions itu akan berfokus pada enam bulan menjelang kematian Joplin. Landasan kisahnya berasal dari buku “Love, Janis” (1992) karya Laura Joplin, adik Janis.

Sebelum nama Williams masuk, calon pemeran penyanyi yang menempati urutan ke-28 dalam daftar “100 Penyanyi Terbaik Sepanjang Masa” versi majalah Rolling Stone itu adalah Nina Arianda.

Ikhitiar untuk memfilmkan kisah hidup Joplin juga bukan hanya Janis semata. Ada satu proyek lain berjudul Janis Joplin: Get It While You Can yang disutradarai Jean-Marc Vallee. Terpilih memerankan Joplin adalah Amy Adams. Film kedua ini lebih spesifik. Hanya akan mengupas kehidupan satu hari sebelum meninggalnya Joplin.

Sama seperti Williams yang masuk menggantikan Arianda, nama Adams muncul ke permukaan menggantikan Reese Witherspoon. Kala itu Catherine Hardwicke masih ditunjuk sebagai sutradara.

Beberapa nama lainnya yang juga sempat didekati sebagai bakal pemeran Joplin, antara lain Lili Taylor, Pink, Scarlett Johansson, dan Zooey Deschanel untuk film The Gospel According to Janis.

“Fokus film ini bukan hanya akan menceritakan kisah hidup Joplin yang singkat, tapi juga bagaimana ia bisa menjadi inspirasi bagi banyak orang. Alih-alih memberi porsi lebih terhadap kisah tragis hidupnya, kami akan mencoba menggambarkan sisi perjuangannya,” ujar Deschanel dilansir MTV.com (19/3/2007).

Pada 2003, sempat pula muncul nama Renee Zellweger sebagai kandidat dalam Piece of My Heart. Karena tak kunjung dieksekusi, Zellweger mundur. Satu dekade kemudian proyek ini muncul lagi ke permukaan. Nama Courtney Love kemudian didekati, namun janda Kurt Cobain itu menolak dengan alasan lebih cantik dibanding Joplin.

Joplin sang pemberontak

Laiknya ikon pop lain, kisah hidup Joplin yang lahir di Port Arthur, Texas, Amerika Serikat, 19 Januari 1943, memang penuh drama. Sangat memenuhi kriteria untuk diangkat ke layar lebar seperti mendiang Marilyn Monroe dan Jimi Hendrix.

Janis kecil suka meminta perhatian lebih. Hal yang tak dengan mudah didapatkannya, terutama saat duduk di bangku sekolah menengah. Ia mengalami kelebihan berat badan dan kulitnya rusak. Jadilah ia sasaran perisakan teman-temannya.

Dari sana kemudian Joplin mulai memberontak. Ia juga sering mencari tempat pelarian yang kelak mendekatkannya dengan ganja, heroin, dan alkohol. Saat masuk universitas, nama Joplin mulai jadi pusat perhatian karena kemahirannya dalam merangkai kata-kata puitis. Dalam salah satu kolom di The Texan, koran harian kampus University of Texas, profilnya ditulis sebagai sosok yang berani tampil beda.

Merasa kampus bukan tempat yang cocok, sulung dari tiga bersaudara itu memutuskan cabut dan berkelana ke San Francisco untuk memulai karier sebagai penyanyi. Sejarah kemudian mencatatnya sebagai salah satu kembang nan semerbak dalam Generasi Bunga pada era 60-an.

Beragam pujian dialamatkan kepadanya, terutama setelah tampil memukau dalam Monterey Pop Festival 1967 dan Woodstock 1969. Majalah Time menyebutnya “penyanyi paling berdaya dari gerakan rock kulit putih”. Sementara majalah Vogue menulis Joplin sebagai “penyanyi perempuan paling menarik perhatian dalam musik rock”.

Perhatian yang diinginkan Joplin sejak kecil mulai berdatangan. Bahkan melebihi yang ia harapkan semula. Hal tersebut membuatnya semakin akrab dengan narkoba dan alkohol. Puncaknya adalah ketika John Cooke, road manager Full Tilt Boogie (band yang dibentuk Joplin), menemukan tubuh sang biduanita terbujur kaku di lantai Landmark Hotel karena overdosis heroin pada 4 Oktober 1970.

Sehari sebelum meregang nyawa, Joplin sempat berkunjung ke Sunset Sound Studios di Los Angeles. Dia ingin mendengarkan rekaman “Buried Alive in the Blues” yang masih berupa instrumental.

Pasalnya keesokan harinya ia dijadwalkan mengisi bagian vokal lagu tersebut. Meski tanpa isian vokal, lagu ciptaan Nick Gravenites itu tetap dimasukkan dalam Pearl (1971), album solo kedua Joplin yang dirilis setahun setelah kematiannya.

Total empat album pernah dirilis Joplin semasa hidup. Dua di antaranya bersama kelompok Big Brother and the Holding Company.

Janis: Little Blue Girl Official Trailer 1 (2015) – Janis Joplin Documentary HD © Movieclips Film Festivals & Indie Films

Bagikan dengan cinta...
Loading...

Tulis komentar