Tim U-12 Indonesia berjuang ditengah suhu 7 derajat

Loading...

Kesebelasan yunior Indonesia tengah mendengarkan arahan pelatih Jacksen F Tiago di komplek olahraga Marcel Bec di Paris, Prancis, Rabu (12/10/2016).

Kesebelasan yunior Indonesia tengah mendengarkan arahan pelatih Jacksen F Tiago di komplek olahraga Marcel Bec di Paris, Prancis, Rabu (12/10/2016). © Tim AQUADNC Garuda Muda via Cognito

Tim U-12 Indonesia bersiap ambil bagian lagi di ajang World Danone Nations Cup 2016 pada Jumat hingga Ahad besok (14-16 Oktober). Tapi mereka harus berjuang melawan suhu dingin lebih dulu.

Maklum turnamen sepak bola untuk anak U-10 dan U-12 ini kembali digelar di Paris, Prancis. Dan saat ini, suhu di sana berkisar antara 7-15 derajat celcius.

Turnamen tahunan ini digelar di Paris sejak 2000. Namun pada 2009 hingga 2015, turnamen berlangsung di berbagai negara–termasuk di Afrika Selatan (2009-2010) dan Maroko (2015).

Indonesia juga rutin mengikuti ajang ini. Untuk edisi 2016, Indonesia diwakili SSB Salfas Soccer asal Tangerang.

Mereka melaju ke Paris setelah mengalahkan juara bertahan SSB Tugu Muda Semarang 1-0 dalam final Piala Danone Indonesia di Jakarta, 24 Juli.

Timnas Indonesia yang biasa disebut Tim AQUADNC Garuda Muda berada di Grup E bersama Italia, Korea Selatan, serta Afrika Selatan. Dan Indonesia masih sibuk dengan adaptasi suhu dingin sebelum mulai bertanding pada Jumat.

Pelatih Indonesia, Jacksen F Tiago, mengatakan udara dingin sudah diperkirakan sejak awal. Para pemain Indonesia pun terus membiasakan diri, terutama bermain sepak bola pada suhu 7 derajat.

“Bukan hal yang mudah, namun bukan berarti tidak bisa diatasi. Anak-anak juga sangat bersemangat untuk berlatih,” kata pelatih yang mengakrabi sepak bola Indonesia sejak 1994 ini.

Sementara kapten tim, Mulkan Hanif, mengungkapkan cara tim beradaptasi dengan udara dingin. “Kami harus terus bergerak supaya badan kami tetap hangat,” katanya dalam siaran pers yang diterima Beritagar.id, Kamis (13/10).

Meski tampil di ajang ini sejak 2000, Indonesia belum sekali pun juara atau melaju ke final. Tapi Garuda Muda pernah tiga kali masuk delapan besar.

Prestasi terbaik terjadi pada 2006 ketika Indonesia lolos hingga semifinal. Sedangkan pada 2009, Indonesia menduduki posisi enam.

Lalu pada 2013, Indonesia berakhir di posisi delapan. Setahun kemudian Indonesia menutup petualangan di posisi tujuh.

Meski begitu Indonesia beberapa kali mendapat penghargaan khusus yang diterapkan mulai edisi 2001.

Pada 2005, Museng Irvin menjadi pencetak gol terbaik (best scorer) dengan jumlah 10 gol. Indonesia juga meraih penghargaan penyerangan terbaik (best attack) karena berhasil mencetak 24 gol.

Sementara pada 2006, Indonesia menyabet penghargaan pertahanan terbaik (best defence) karena tak pernah kebobolan sepanjang turnamen. Lolos hingga semifinal, Indonesia hanya kalah melalui adu penalti.

Namun sejak itu, Indonesia absen meraih penghargaan khusus. Baru pada 2014, kiper Indonesia Reynaldi Saela dinobatkan sebagai kiper terbaik.

Para pemain cilik Indonesia tengah melakukan pemanasan sebelum berlatih di komplek olahraga Marcel Bec di Paris, Prancis, Rabu (12/10/2016). Para pemain cilik Indonesia tengah melakukan pemanasan sebelum berlatih di komplek olahraga Marcel Bec di Paris, Prancis, Rabu (12/10/2016). © Tim AQUADNC Garuda Muda via Cognito

Adapun Jacksen mulai terlibat sejak 2014. Bahkan tahun pertamanya di Final Dunia Danone Nations Cup itu berhasil mendatangkan status kiper terbaik.

Pelatih yang antara lain pernah membawa Persipura Jayapura menjuarai Liga Super Indonesia ini mengaku senang melatih anak-anak. Pelatih berusia 48 ini antusias karena umur 10-12 tahun adalah titik awal mencetak pemain andal.

Turnamen ini digagas perusahaan makanan dan minuman ringan asal Prancis, Danone. Mereka ingin anak-anak mengenal budaya asing, menjalin persahabatan, dan menjadi manusia yang lebih baik melalui sepak bola–terutama Danone Nations Cup.

Untuk tahun ini, panitia menunjuk pemain Paris Saint Germain Blaise Matuidi sebagai duta Prancis. Sementara pelatih Real Madrid dan eks gelandang Prancis Zinedine Zidane tetap menjadi duta besar putaran final sejak 2006.

Meski tidak rutin, Danone Nations Cup kerap menunjuk sejumlah pemain atau eks pemain terkenal sebagai duta besar. Antara lain Patrick Kluivert sebagai duta besar Belanda, Carlos Tevez sebagai duta besar Argentina, dan Dimitar Berbatov mewakili Bulgaria.

“Nikmati (permainan), bagikan (pengalaman), dan tetap fair play. Saya terikat dengan anak-anak dari seluruh dunia setiap tahun. Saya senang melihat mereka bermain dan bercengkerama. Mengasyikan,” ujar Zidane dalam pesannya untuk 2016.

Bagikan dengan cinta...
Loading...

Related posts