Trik membuat otak lebih sabar

Loading...

Bayangkan di dalam otak Anda ada lampu hijau dan lampu merah. Agar lancar, Anda perlu pengaturan. Begini caranya.

Bayangkan di dalam otak Anda ada lampu hijau dan lampu merah. Agar lancar, Anda perlu pengaturan. Begini caranya. © Min Chiu /Shutterstock

Pada zaman serba instan seperti sekarang, menjadi sabar adalah hal yang sulit. Mau putar lagu, atau film, pesan makanan atau kirim barang semua bisa dilakukan dengan cepat.

Namun sebenarnya, menginginkan hasil instan bukanlah problem orang modern. Tuntutan itu sudah merupakan dampak bawaan evolusi otak manusia.

Fast Company belum lama ini mengeksplorasi akar perangai tak sabar. Mereka sampai pada kesimpulan, fenomena tersebut merupakan hasil dari dua sistem mental yang berinteraksi.

Apa yang dimaksud dengan dua sistem mental? Gampangnya begini, bayangkan di dalam otak Anda ada lampu lalu-lintas. Satu lampu hijau, satu lampu merah. Seperti fungsi lampu lalu-lintas, yang hijau memberi tanda untuk jalan, sementara yang merah menyetop Anda.

Sistem lampu hijau mengontrol keinginan dan mendorong Anda mencapai tujuan. Sementara sistem lampu merah memeriksa sistem pertama. Jika otak Anda fokus pada tujuan yang belum atau tidak mau Anda kejar sekarang, fungsi ini bekerja untuk mengurangi motivasi.

Celakanya, bagi mereka yang bukan penyabar, sistem yang menyasar tujuan tertentu dalam otak cenderung lebih kuat daripada sistem yang membuat kita memperlambat pemikiran dan tingkah laku.

Sesuatu perlu dilakukan untuk mengatasi desakan yang lahir dari rasa tak sabar ini, sebelum Anda jadi kewalahan. Dilansir Fast Company, ada empat cara yang bisa Anda lakukan untuk mengelabui otak, melatihnya menjadi lebih sabar.

Memberi jeda antara pikiran dan objek dari obsesi Anda. Jadi, di saat Anda mulai cemas menunggu sesuatu, jadikanlah momen itu sebagai kesempatan untuk berlatih meditasi mindful. Mindful berarti sadar, awas, memerhatikan apa yang terjadi saat ini di sekitar Anda. Cobalah hal ini tanpa melakukan penilaian, pun sikap menghakimi, niscaya perasaan tak sabar itu akan lenyap.

Bonusnya untuk Anda, tak hanya menjadi lebih sabar, tapi bentangan perhatian Anda pun jadi lebih luas. Praktik mindful telah terbukti meningkatkan toleransi terhadap stres.

Jika melenyapkan suara dalam otak ternyata terlalu sulit Anda lakukan, cobalah untuk mencari distraksi yang akan menyibukkan Anda. Terlalu fokus pada suatu hal membuat hal lain seolah jadi tak penting.

Mencari seseorang untuk diajak bicara bisa jadi cara cepat untuk mengalihkan pikiran cemas. Sebuah penelitian pada 1992 menyimpulkan bahwa orang yang berinteraksi dengan orang lain saat sedang menunggu sesuatu cenderung tidak terlalu stres jika dibandingkan mereka yang tidak bersosialisasi.

Tentu, bersosialisasi dengan orang asing mungkin bukanlah pilihan. Apalagi bagi para introver. Untuk itu Anda butuh strategi berbeda. Menelepon teman atau orang dekat bisa dicoba.

Lain waktu perasaan tak sabar menyerang, pastikan Anda telah mempersiapkan sejumlah amunisi. Bisa dimulai dengan isi tas Anda. Bawalah buku, makanan, mainan, apapun yang mudah dibawa dan bisa mengalihkan perhatian.

Teknologi pun bisa jadi teman. Anda bisa mengunduh film untuk ditonton di ponsel saat berkomuter. Mendengarkan podcast untuk belajar hal baru saat bermacet-macet di jalanan. Atau tekuni buku dan permainan favorit Anda selagi menunggu.

Cara-cara ini mungkin tak bisa bekerja secara instan. Sesekali merasa tak sabar itu wajar. Tak perlu Anda sesali sedemikian dalamnya. Ada masa-masa dalam hidup di mana Anda mungkin tak mendapatkan apa yang diinginkan. Hal itu tak dapat dihindari. Jalani saja, dengan semakin sering berlatih menghadapi ketidaksabaran, Anda akan semakin siap kali lain rasa itu menyerang.

Bagikan dengan cinta...
Loading...

Tulis komentar