Untung rugi menurunkan harga gas industri

0
0

Petugas Perusahaan Gas Negara (PGN) mengoperasikan alat pengatur volume pengeluaran gas untuk industri dan rumah tangga, di Semarang, Jateng, Kamis (15/9). Keinginan pemerintah menurunkan harga gas untuk industri bisa mengurangi pendapatan negara.

Petugas Perusahaan Gas Negara (PGN) mengoperasikan alat pengatur volume pengeluaran gas untuk industri dan rumah tangga, di Semarang, Jateng, Kamis (15/9). Keinginan pemerintah menurunkan harga gas untuk industri bisa mengurangi pendapatan negara. © R. Rekotomo /ANTARA

Presiden Joko Widodo (Jokowi) telah memberi ultimatum agar harga gas untuk industri harus turun menjadi di bawah US$6 per MMBTU (Million British Thermal Units) . Selama ini, harga gas untuk konsumen industri masih di kisaran US$9-12 per MMBTU. Jokowi ingin harga baru gas ini tercapai dalam waktu dua bulan.

Dengan harga gas yang tinggi dibanding negara-negara ASEAN, industri dalam negeri kalah bersaing dengan negara tetangga.

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral dan SKK Migas pun segera menghitung. Menurut perhitungan Kementerian ESDM, Pendapatan Negara Bukan Pajak (PNBP) gas akan turun sebesar US$300,1 juta atau sekitar Rp3,5 triliun jika rata-rata harga gas industri menjadi US$5 per MMBTU. Sebab, selama ini pemerintah menjadikan gas sebagai sumber pendapatan negara.

Jangan lewatkan:  Video Youtube Ritual Pecahkan Kendi jadi Simbol Buka Rute Mandao Sorong Ini Bikin Viral

“Ini memerlukan perubahan kebijakan asumsi dasar APBN,” kata Direktur Pembinaan Program Migas Kementerian ESDM, Agus Cahyono Adi, di Jakarta, Kamis (6/10) seperti dinukil dari financedetik.

Sedangkan jika rata-rata harga gas industri diturunkan menjadi US$4 per MMBtu, penerimaan negara yang harus dikorbankan sebesar US$474,9 juta atau sekitar Rp 6,17 triliun.

Tapi di sisi lain, penerimaan negara dari pajak dan turunannya akan tumbuh. Staf Ahli Menteri Perindustrian Bidang Sumber Daya Industri, Dyah Winarni Poedjiwati, mengutip kajian Kementerian Perindustrian dan LPEM UI, penurunan harga gas menjadi US$5 per MMBTU atau sebesar 47 persen, akan membuat industri tumbuh dan menggenjot penerimaan negara hingga Rp21,3 triliun dari pajak dan industri turunan yang tercipta.

Jangan lewatkan:  BPPT Katakan Bahwa Gempa Aceh Lebih Dahsyat 4 Kali Lipat Dibandingkan Bom Hiroshima !

Jika harga gas untuk industri di dalam negeri hanya US$4 per MMBTU, penerimaan negara bertambah lebih tinggi lagi. “Penurunan harga gas sebesar 68 persen, dapat menambah penerimaan negara Rp31,97 triliun,” ujar Dyah.

Dia menuturkan, jumlah penerimaan sebesar itu juga akan diikuti dengan penguatan industri domestik melalui nilai tambah dan penyerapan tenaga kerja.

Jika Indonesia mengalokasikan 712 juta kaki kubik per hari (mmscfd) gas bumi untuk dijual sebagai gas alam cair (LNG) buat industri, nilai tambah yang diperoleh adalah US$6 per MMBTU dengan penyerapan tenaga kerja sebesar 250 orang.

Jangan lewatkan:  Bantuan asing mulai datang ke Aceh

Sementara itu, dengan alokasi gas yang sama, jika gas bumi ini dialirkan ke industri petrokimia maka akan menghasilkan nilai tambah US$24 per MMBTU, serta menyerap 2.000 tenaga kerja.

Dengan demikian, biaya produksi industri akan turun sehingga mendorong produksi domestik untuk bersaing di pasar global.

“Murahnya biaya energi dapat menjadi salah satu nilai tambah dalam peningkatkan investasi dalam negeri,” ucap Dyah seperti dikutip dari Kompas.com.

Dyah berharap, penurunan harga gas dapat mendorong pengembangan ekonomi di kawasan Indonesia Timur. Misalnya, pembangunan pabrik petrokimia dan ammonia berbasis gas bumi di Teluk Bintuni, Banggai, dan Masela.

“Berdasarkan kajian, pembangunan ini akan memberikan tambahan pendapatan asli daerah sebesar Rp590 miliar dan mendorong pertumbuhan ekonomi secara signifikan,” ujar Dyah.

Bagikan dengan cinta...
Loading...

Tulis gagasan