Yuk amati amfetamin yang konon ada dalam permen narkoba

Loading...

Kepala BNN Cilacap Edy Santosa menunjukan permen jari yang diduga mengandung narkoba, hasil razia petugas BNN di Kroya, Cilacap, Jateng, Rabu (12/10). BNN Cilacap bekerjasama dengan Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan melakukan razia terhadap peredaran permen jari yang diimpor langsung dari Tiongkok karena dicurigai mengandung narkoba.

Kepala BNN Cilacap Edy Santosa menunjukan permen jari yang diduga mengandung narkoba, hasil razia petugas BNN di Kroya, Cilacap, Jateng, Rabu (12/10). BNN Cilacap bekerjasama dengan Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan melakukan razia terhadap peredaran permen jari yang diimpor langsung dari Tiongkok karena dicurigai mengandung narkoba. © ANTARA FOTO/Idhad Zakaria

Berita mengenai beredarnya permen narkoba merebak di masyarakat. Pesan yang beredar lewat aplikasi Whatapps, Facebook dan media sosial lainnya sejak sekitar seminggu terakhir cukup meresahkan orang tua.

Pesan itu kurang lebih berbunyi: “Info dari Dinas Kesehatan Kota Tangerang. Permen jari ditemukan di sekolah daerah Ciledug. Anak yang mengkonsumsi permen ini tertidur selama 2 hari. Seperti orang kecanduan, minta-minta permen jari. Sekarang dalam penyelidikan. Mohon hati-hati buat kita semua. Mohon bu guru dan para orang tua minta tolong agar anak-anak dilarang jajan sembarangan di abang-abang yang jualanannya aneh-aneh. (Sumber info: Kapuskesmas Karawaci Baru)”.

Informasi ini kemudian ditelusuri oleh Detikcom dengan menghubungi beberapa pihak, misalnya kepala Puskesmas, produsen permen, dan polisi. Kesimpulannya: kabar soal permen jari yang bisa membuat anak yang mengonsumsinya kecanduan dan tertidur selama dua hari adalah tidak benar atau hoax.

Meski sudah terbukti bahwa berita tentang permen narkoba adalah berita bohong, orang tua sebaiknya tetap waspada. Pasalnya, pada awal 2012 sempat pula beredar adanya permen yang mengandung amfetamin di Medan, Sumatra Utara.

Baca juga:  Hentikan konsumsi makanan berikut tahun ini

Apa sebenarnya amfetamin itu? Laman Badan Narkotika Nasional menyebutkan amfetamin pertama kali disintesis pada 1887, tetapi baru dipasarkan sebagai obat pada 1932. Sejak itu berbagai jenis zat yang mirip amfetamin dapat disintesis, beberapa di antaranya digunakan di bidang kedokteran, tetapi sebagian besar disalahgunakan, termasuk: benzedrin, dextroamphetamine, dexedrine, methamphetamine, fentermine, fenmetrasin, metilfenidat, ritalin dan fenfluramine.

Sementara itu situs Drugs.com menyebutkan bahwa amfetamin (amphetamine) merupakan stimulan yang bisa memengaruhi sistem saraf pusat. Obat ini memengaruhi otak dan saraf sehingga orang yang mengonsumsinya menjadi hiperaktif dan tidak pernah kehabisan tenaga. Amfetamin sering digunakan untuk merawat orang yang mengalami gangguan hiperaktif kurang perhatian (ADHD atau Attention Deficit Hyperactivity Disorder).

Selain itu, seperti disebutkan oleh Ketua Ikatan Apoteker Indonesia (IAI) Sulsel Yagkin Padjalangi, amfetamin juga merupakan obat stimulansia untuk gejala luka-luka traumatik pada otak, gejala mengantuk siang hari, sindrom kelelahan kronis, mengurangi nafsu makan, dan mengontrol berat badan.

Salah satu efek penggunaan amfetamin memang bisa membuat nafsu makan jadi berkurang. Namun jangan pernah berpikir untuk bisa memanfaatkan efek samping amfetamin untuk mengurangi nafsu makan sehingga badan menjadi kurus.

“Jadi kalau orang pakai (amfetamin), dia tidak merasa capek, dia tidak merasa gampang lelah, otomatis tidak membutuhkan banyak asupan makan juga. Bisa juga untuk doping, efek sampingnya tadi nafsu makan jadi berkurang. Orang pakai efeknya untuk obat pelangsing,” jelas Direktur Bina Keswa Kemenkes RI, dr Herbert Sidabutar, kepada Detikcom.

Baca juga:  Cara memprogram ulang nafsu makan

Sidabutar berpesan agar orang tidak tergiur memanfaatkan efek samping amfetamin sebagai pelangsing. Sebab penggunaan amphetamine malah bisa membuat seseorang jadi kecanduan.

“Efek inilah yang kerap disalahgunakan untuk tujuan pendongkrak tenaga atau pelangsingan tubuh tanpa melihat efek samping lainnya. Efek yang paling mengkhawatirkan adalah dapat menyebabkan kecanduan hingga merusak sistem saraf pusat,” jelas psikiater spesialis adiksi dr. Kristiana Siste, SpKJdari Klinik Psikiatri Adiksi RSCM kepada Femina.

Laman Alodokter menyebutkan bahwa amfetamin hanya boleh digunakan jika ada resep dari dokter karena obat ini memiliki efek samping yang berbahaya seperti mual, nyeri perut, muntah, diare, sakit kepala, susah tidur, pusing, nafsu makan menurun, emosi tidak stabil, dan berat badan menurun.

Jika seseorang yang mengonsumsi amfetamin dosis tinggi dalam waktu lama namun tiba-tiba menghentikannya, orang tersebut berisiko mengalami gejala bebas obat (withdrawal), seperti merasa sangat lelah, perubahan mood drastis, hingga depresi. Kondisi tersebut tidak dapat dianggap sepele dan harus segera ditangani secara langsung oleh dokter. Konsultasikan lebih lanjut mengenai hal ini dengan dokter ahli psikiatri.

Petugas Dinas Perindustrian dan Perdagangan bersama polisi memeriksa permen bermerk "Permen Jari" yang dijual oleh pedagang kaki lima di depan salah satu sekolah Taman Kanak-kanak di Kota Kediri, Jawa Timur, Kamis (13/10). Permen yang diduga mengandung narkoba dengan efek mampu mengakibatkan anak tertidur selama berjam-jam tersebut diamankan petugas guna menghindari kejadian yang tidak diinginkan. 
Petugas Dinas Perindustrian dan Perdagangan bersama polisi memeriksa permen bermerk “Permen Jari” yang dijual oleh pedagang kaki lima di depan salah satu sekolah Taman Kanak-kanak di Kota Kediri, Jawa Timur, Kamis (13/10). Permen yang diduga mengandung narkoba dengan efek mampu mengakibatkan anak tertidur selama berjam-jam tersebut diamankan petugas guna menghindari kejadian yang tidak diinginkan. © ANTARA FOTO/Prasetia Fauzani

Bagikan dengan cinta...
Loading...

Tulis komentar